선택 – Choice : Morning Kiss

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Kim Boram [OC]

*) Kim Jongwoon [Super Junior]

Genre : AU, OOC, Romance

Length :  Drabble [296 words]

Disclaim : The casts is mine just in this fict

a/n : yay! Lanjutan Choice kali ini balik lagi ke Boram PoV, semoga entar ada Jongwoon PoV dan Jino PoV lagi, as usual.. gak janji :p aku udah bikin side story tapi mungkin gak publish di sini. Seseorang pengen kembangin cerita’a biar panjangan kata,. Oke.. happy reading ^^

Choice Series : Boram PoV | Jongwoon PoV | Jino PoV

 Choice - Morning Kiss

Karena aku memang belum mencintainya, aku tidak bisa memperlakukannya sebagai suamiku seperti yang seharusnya.

“Nngghhh…”

Aku membuka kedua mataku yang masih agak sulit untuk terbuka. Dan ketika mataku benar-benar sudah terbuka, wajah pria tampan mengawali apa yang aku lihat pagi ini.

“Morning.” Pria itu menyapaku disertai senyuman manis di bibirnya. Matanya menatap intens ke dalam mataku. Dia sama sepertiku, tidur di sampingku, di ranjang yang sama denganku.

Mau tidak mau aku juga tersenyum padanya. “Morning.” Balasku.

“Tidur nyenyak eoh?” Dia bertanya.

Aku mengangguk pelan. Dan kami diam sambil saling menatap dalam waktu yang lama. Lama hingga kemudian dia bergerak, dengan masih tidak memutus kontak mata kami. Tubuhnya mendekat, tepatnya wajahnya. Semakin mendekat sampai hampir meniadakan jarak di antara kami. Kepalanya terangkat, memposisikan untuk berada di atasku dan dia memiringkan kepalanya itu. Mata kami masih tetap berada di satu titik. Tepat sesaat sebelum bibirnya mendarat, aku memalingkan kepalaku.

“Mianhae.” Aku berbisik.

Dia bangun, duduk di ranjang. “Gwenchana.” Dia berkata.

Jahatnya aku. Aku memperlakukan suamiku sendiri seperti orang asing selama hampir satu bulan sejak pernikahan kami. Aku bukannya tidak menginginkannya. Hanya saja, hatiku selalu menolak di detik terakhir. Dan aku sadar itu pasti menyakiti harga dirinya.

Aku bangun, ikut duduk di sampingnya. Tanganku melingkar di lengannya, dan kepalaku bersandar di pundaknya.

Dia berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya, aku tahu itu. Rasa bersalah itu menjalar ke tubuhku.

Aku mendongak karena perbedaan tinggi kami, menatap dia yang masih menatap lurus ke depannya. Aku terus menatapnya hingga dia akhirnya menemukan aku tengah menatapnya. Aku tersenyum padanya dan mendekatkan wajahku padanya. Dia menyambutku.

Pagi kami, diawali dengan ciuman kedua kami setelah pernikahan kami dulu. Doaku selalu sama, semoga aku bisa mencintai dia, perlahan sampai cinta itu bisa sebanding dengan cinta yang dia berikan. Cinta yang aku sadari setelah menjalani pernikahan ini.

-end-

Advertisements

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s