[ff] Darkness beyond your eyes..

Standard

Author : Zen

Cast :

*) Jo Youngmin [Boyfriend]

*) Jo Kwangmin

*) Lee Hwaran [OC]

Genre : Horor coretniatnyacoret tapi gagal

Rate : G

Length : Oneshot

Disclaimer : Kwangmin sementara punya saya*?*

a/n : Gak tahu serem apa gak, kayaknya si enggak, gak bakat nulis horor ataupun thriller. Bakatnya bikin galau orang/plak. Maklum, saya amatiran pake banget, maklum juga kalau judul kagak ada nyambung2nya.

jotwins22

…………………………..

Dua bocah laki-laki yang identik, nyaris sama persis dan sulit dibedakan jika baru pertama kali melihat dan bukan karena gaya rambut mereka yang jelas dibuat berbeda, berdiri dengan santai di balik tirai yang menutupi jendela besar di samping mereka. Di sisi kanan, namja kembar yang lebih tua beberapa menit saja menyandarkan punggungnya persis di sisi jendela dengan bola mata yang tak henti-hentinya menyelinap pandang dari sela-sela tirai ke luar sana. Langit bergemuruh dan mendung menggelayut, tapi sedikit banyak ia bisa memastikan kalau hujan takkan datang tiba-tiba. Tidak, hujan malah tidak boleh datang sebelum rencana mereka terlaksana.

Si kembar yang lebih muda masih sibuk dengan telepon yang diterimanya. Sesekali ia juga melakukan hal yang sama seperti saudaranya, melirik keluar jendela, menerka-nerka, berharap apa yang mereka tunggu segera tiba.

“Arasso..” Si adik berkata pada entah siapa di seberang sana lewat sambungan teleponnya. “Ahjussi tinggal lurus saja, ikuti jalan. Sekitar 100 an meter setelah perempatan besar, bangunan memanjang berwarna putih, itu penginapan yang kami janjikan.” Ia memain-mainkan kabel telepon di tangannya. “Ne, kami tunggu kedatangan ahjussi dan rombongan. Kamsahamnida. Annyeong~.”

Si kembar yang lebih tua menoleh ke adiknya saat saudara mudanya itu meletakkan gagang telepon di tangannya. Sang adik tersenyum.

“Sebentar lagi mereka sampai..” ucap sang adik seraya menyibak tirai tebal yang menghalangi cahaya masuk ke ruangan mereka. Hanya sedikit, karena mereka tak begitu suka cahaya.

“Rasanya… sudah tak sabar untuk segera bermain dengan mereka..” timpal sang kakak dengan misteri tersirat dalam nadanya.

Tatapan kedua bersaudara itu bertemu di satu titik. Seringai tipis terukir indah di wajah tampan mereka.

…………………………………………

Girls POV

“..ran. Hwaran-ah..” Seseorang seperti memanggil namaku. “YA!” Sekarang dia mulai membentak. “Ppalli ireona!! Hwaran-ah!!”

“Engg…” Aku mengerang dan mengejap-ngejap silau saat guncangan menggugahku dari alam mimpi yang sedang kusinggahi. Kesadaranku belum kembali seutuhnya. Kurasakan seseorang terus menggoyang bahuku. Ah, sepertinya orang ini takkan berhenti sebelum aku benar-benar bangun dan membuka lebar-lebar mataku.

“Yeonjae-ah~, aku masih ngantuk~,” protesku sambil menyingkirkan tangannya dari bahuku. Tanpa perlu membuka mata pun aku tahu jelas suara siapa ini.

“Aish.” Gadis itu mencebik. “Aku sudah menyuruhmu bangun ya. Bukan salahku kalau kau harus kembali ke Seoul karena keenggananmu. Ahjussi, gadis ini bilang tidak mau turun.. Hmp..”

Dengan mata setengah terpejam aku membekap mulut temanku satu itu. Jinja. Apa dia tidak tahu kalau aku ini punya darah rendah dan perlu waktu sedikit lebih lama untuk mengumpulkan nyawa?

“Ara~~,” ucapku sambil membuka kedua mataku dengan bantuan jari-jariku. “Aku sudah bangun, lihat?”

“Hhe..” Gadis itu nyengenges lebar. “Kajja~,” sahutnya sambil menarikku dari dalam kendaraan berkapasitas 20an orang itu.

“Barang-barangmu sudah dibawa yang lain,” ucapnya saat aku mau berbalik menilik kursiku lagi. “Kau lambat sih.”

“Mian~” jawabku sambil sibuk mengucek mata dan mengacak rambutku. Kebiasaan tiap bangun tidur.

“Ahjussii~ hati-hati di jalan yaa~.” Yeonjae melambai riang saat kami sudah ada di luar bus sementara aku masih sibuk mengumpulkan kesadaran. Aku berkedip pelan untuk melihat dua pemandangan sekaligus. Bus yang baru saja masih di sampingku melaju entah kemana dan hijaunya pepohonan di tengah senja berlapis mendung yang menggantung.

Aroma pegunungan menyergapku. Kami ada entah di mana saat ini. Salah satu pelosok pegunungan di Korea?? Ah, entahlah, aku terlalu malas untuk membaca detail tempat yang akan kami kunjungi saat ini. Aku hanya tahu klub occult mengadakan acara menginap tahun baru di tempat antah berantah yang tak kukenal ini dan aku ada di sini juga terpaksa karena Yeonjae memaksaku ikut. Dia yang anggota klub occult, bukan aku. Aku tak tertarik pada hal-hal semacam itu.

“Kajja!” Yeonjae sudah menyeretku masuk ke dalam bangunan putih memanjang dengan arsitektur sedikit kuno di belakang kami sebelum aku sempat merespon. Sepertinya ini calon tempat kami menginap malam ini. Seram?? Menurutku tidak juga. Hanya… rasanya cukup aneh saja ada bangunan bergaya sedikit eropa di salah satu pelosok pegunungan di Korea. Atau… ini hanya pendapatku saja??

;

;

;

 “HWAAA~~~!! AWAASSS~~!!”

Aku terbelalak, mengibaskan tangan Yeonjae dengan cepat dan mendorongnya dengan sukses hingga menabrak tembok sementara aku terjatuh ke belakang, sama kagetnya.

“MIAWWWWW~~!!!!”

Seekor kucing besar melompat di depanku, di tempat seharusnya aku dan Yoonjae berada sebelumnya. Disusul dengan makhluk lain yang juga melompat untuk menangkap makhluk yang segera mengeong tanpa henti saat berada di dekapan makhluk yang tadi mengejarnya itu.

Aku terkesiap tanpa gerakan. Membisu dalam kehampaan. Entah sihir entah obat bius macam apa yang mendadak meracuni sarafku hingga mataku tak mampu terpejam ataupun teralihkan dari sosok makhluk kedua yang saat ini masih berkutat dengan makhluk putih berbulu lebat yang masih belum mau memberi jeda pada meongannya itu.

Tampan.

Hanya satu kata itu yang berhasil membius otakku saat mataku terpajan oleh wajahnya.

“Noona, gwenchana yo?” tanya seseorang dari sisiku yang lain. Tangannya terulur menawarkan bantuan padaku.

“Ah, a.. anni.. gwenchan..” Aku terkesiap untuk yang kedua kalinya. Wajah yang identik dengan si makhluk kedua kini sedang menatapku dengan mata besarnya. Apa aku sedang bermimpi? Begitu terpesonanyakah aku hingga melihat satu makhluk—ah, kurasa aku harus berhenti memanggilnya dengan label makhluk, dia  manusia, dan itu lebih menghemat kata—maksudku manusia itu dalam dua sosok sekaligus?

“Ya, Kwangmin-ah, kau niat menolongnya tidak sih?” suara yang sama dengan manusia yang baru saja menawariku pertolongan terdengar lagi dari sisi yang lain, terdengar lebih halus. Manik mataku teralih pada sumber suara itu.

“Noona, apa kau baik-baik saja?” Manik cokelatku kembali teralih pada makhluk lainnya.

“Noona?”

“Noona?”

“Noona?”

“YA~! Bisakah kalian berhenti mengerubutinya dan membantuku juga??” Kesadaranku pulih sepenuhnya setelah mendengar teriakan Yoonjae dari ujung lain ruangan–masih dalam posisinya yang jelas lebih parah dariku— dan mataku pegal akibat terus-terusan mengalihkan pandangan pada dua sosok identik di depanku.

Gampang. Mereka kembar.

;

;

;

“Kyaaa!! Keyoptaaa~~ Kalian tampan sekali><!”

“Awwww~ Manisnyaaaa~!!”

“Kyaaaaaa!!”

Aku menyumpal kedua telingaku dengan jari telunjukku sendiri, secepat mungkin sebelum gendang telingaku pecah oleh teriakan soprano melengking semua yeoja di sampingku ini. Kenapa semua anggota klub yang ikut harus perempuan?

Yoonjae duduk di dekatku dengan tenang. Nyaris tak terpengaruh dengan celotehan-celotehan di sampingnya.

Bukan, bukan karena ia tak tertarik dengan namja kembar yang kami ketahui identitasnya sebagai Jo Youngmin dan Jo Kwangnmin yang notabene adalah pengurus penginapan ini, tapi karena ia terlalu lemah setelah menabrak tembok tadi dan mengalami ‘sedikit’ mimisan akut.

”Aigoo~ padahal ada dua makhluk tampan di dekatku tapi aku sama sekali tidak bisa apa-apa. Haaaaah..” Yoonjae menghela nafas panjang untuk alasan yang menurutku sama sekali tak diperlukan. Aku tersenyum ganjil

“Jadi ini alasan kalian memilih tempat ini? Ck.. Dasar.” Aku menyentil kepala Yoonjae dengan jari telunjukku dan jelas, dia langsung protes karena kepalanya kembali terasa berputar.

“YAAA~,” Yoonjae meluncurkan protes yang lain. “Tentu saja tidak.” Ia berucap lagi. ”Yah, meskipun itu jadi alasannya juga sih, hhe…” Rupanya dia masih bisa tertawa.”..tapi ada alasan lain kenapa harus tempat ini, bukan yang lain.”

“Apa?”

“Katanya di sini sering ada orang hilang,” sahutnya sambil menguap tanpa beban.

Aku memberlalak. “He?”

“Banyak cerita orang hilang di pegunungan ini. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya, tapi tiap satu tahun sekali pasti ada yang orang yang menghilang tiba-tiba. Kadang tidak hanya satu orang, tapi beberapa pendatang yang mencoba menyelidiki berita itu juga ikut menghilang. Tapi, sebagian yang lain malah kembali dengan selamat tanpa cerita apapun.” Dia melanjutkan ceritanya.

“Yakin bukan pekerjaan pembunuh gila atau pembunuh berantai?” tanyaku serius.

“Mana aku tahu,” jawab Yoonjae santai.

Ah, dasar bocah ini. Kalau tidak ingat dia tadi cidera tentu sudah kupukul kepalanya. Dia menceritakan cerita seperti itu dengan begitu mudahnya. Seolah itu hanya kisah biasa yang digunakan sebagai pengantar tidur. Apa jadinya kalau ternyata tempat ini memang berbahaya. Huwwaa, aku belum mau mati muda. Seharusnya aku ikut pulang saja dengan bus tadi ==.

“Yaaa~ tidak usah berpikir macam-macam~,” Yoonjae terkekeh, seakan tahu apa yang barusan bergelayut di otakku. “Anggap saja ini liburan. Kita nikmati saja apa yang ada di depan kita. Oke?”

Heran bagaimana ada makhluk seoptimis dan sesantai ini.

“Ne. Noona, malam ini kalian tidak ada acara, kan? Bagaimana kalau kita main petak umpet saja?” terdengar usulan dari salah satu bocah kembar yang berlabel Jo Kwangmin. Manik cokelatnya menatap gadis-gadis di depannya penuh binar. Para gadis berpandangan.

“Boleh, tapi kalian yang jaga ya?” jawab mereka serempak.

“Tapi kami punya satu syarat, otte?” tanya Youngmin, si kembar yang lain.

“Apa?”

Kedua namja identik itu saling berpandangan sejenak, cukup untuk berkomunikasi dalam kilatan kasat mata yang hanya dimengerti oleh keduanya dan berucap kompak dalam paduan senyum lebar mereka.

“Yang ketemu kami gigit yaaaa~~~.”

;

;

;

Plakk.

Aku memukul tanganku sendiri, sedikit agak keras hingga menimbulkan suara lemah. Seekor nyamuk nakal yang baru saja mencoba menghisap darahku berhasil kabur dari serangan tanganku, dan kembali terbang waspada di dekatku, mencari celah dimana ia bisa menancapkan mulutnya dan mengerjakan pekerjaannya yang baru saja tertunda. Aku tidak bisa melihatnya karena gelap, tapi aku bisa mendengar dengungan suaranya yang terus menggema dari tadi.

Aih, kenapa aku harus ikut main petak umpet di tengah kebun bambu seperti ini??

Tsk. Aku menggaruk leherku yang sedikit gatal. Tak ada hal yang baik saat aku menuruti kata-kata Yoonjae.

Harusnya saat ini kan aku sedang enak-enakan tidur di kamar. Tapi, karena Yoonjae bilang dia ingin ikut main dan dia tidak bisa main sendiri dengan kondisi lemah seperti tadi, terpaksa aku akhirnya ikut permainan anak kecil seperti ini. Lalu, sekarang dia malah meninggalkanku karena katanya keadaannya sudah membaik. =_=.

Haaaaah..

Sudahlah.

Aku menyerah.

Aku mau tidur saja.

Tidak ada gunanya meneruskan permainan yang tidak kuinginkan.

Aku baru saja mau menggerakkan tubuhku dan keluar dari tempat persembunyian saat suara gemerisik  diiringi suara seorang perempuan terdengar tak jauh dari tempatku. Tepat beberapa meter dari jarak pandangku.

“Kyaaaa~  ketemu yaa~,“ nada genit itu terdengar bersamaan munculnya sosok seorang yeoja yang kuketahui sebagai salah seorang anggota klub yang ikut ke sini. Sosok si kembar dengan warna rambut yang lebih terang berdiri tepat di depannya.

“Aigoo~ noona harusnya cari tempat sembunyi yang lebih aman,” sahut Youngmin dengan senyum malaikatnya.

“Wae? Aku tidak keberatan kok kalau Youngmin yang menemukanku.”

“Jadi.. noona tidak keberatan juga kalau kugigit kan?”

;

;

;

Katakan kalau yang kulihat barusan hanya ilusi! Aku tak sempat untuk memikirkan hal lain karena sekarang yang ada di otakku hanyalah bagaimana caranya kabur dari tempat ini.

Mereka tidak bercanda! Mereka benar-benar menggigitnya.

Tepat di depan mataku.

Aku melihat sendiri bagaimana bocah itu menggigit leher gadis itu dan membuatnya memucat dengan cepat. Seakan darah baru saja dikeluarkan secara paksa dari tubuhnya. Aku bahkan bisa melihat dengan jelas bagaimana akhirnya gadis itu tergeletak di sana tanpa bergerak.

Aku harus mencari Yoonjae. Sekarang. Kami harus keluar dari tempat ini secepatnya.

Brukkkk. Tubuhku terjungkal ke depan setelah tersandung sesuatu. Aku tak yakin apa itu dan tak ingin berusaha tahu. Yang kuinginkan hanyalah segera pergi dari sini dan kembali ke tempat manapun yang sekiranya aman bagiku.

Tatapanku disambut oleh sosok pucat yang terkulai lemas di depanku. Aku mengenal dengan jelas pemilik tatapan kosong itu. Sangat jelas meski di tengah temaram sinar bulan.

“Yoonjae…” erangku. Lirih.

Bocah yang ada tepat di sampingnya memutar kepalanya ke arahku.

Cairan kental, amis berwarna merah menetes-netes dari bibirnya. Cairan sama yang tertinggal di leher sosok gadis itu. Ah tidak… Bukan tertinggal, tapi memang berasal dari tubuh itu. Bocah ini benar-benar meminum darahnya!

Kakiku terasa berat, tak mampu bergerak sedikitpun saat ia menunjukkan seringainya padaku. Ia bangkit perlahan, berjalan ke arahku, masih dengan seringai indah yang tak juga lepas dari bibirnya. Kali ini tubuhku yang tak mau berkoordinasi dengan otakku secara sempurna. Aku tahu aku ingin dan HARUS segera pergi dari tempat ini, tapi tak ada yang mau dilakukan tubuhku selain berdiri gemetar dengan mata membulat ketakutan.

“Jadi…” Kudengar bisikan, atau lebih tepatnya desisan persis di telingaku. Aroma amis darah menyeruak. Bulu kudukku berdiri cepat. Entah sejak kapan bocah kembar yang bernama Youngmin sudah menyandarkan jari jemarinya yang dingin ke pundakku dengan begitu halus.

“Noona ingin akhir permainan yang seperti apa?” Kwangmin mendekatkan kepalanya ke arahku, berbisik seperti saudaranya dalam seruak aroma anyir yang tak ingin kuhirup lebih lama.

“K…” Tenggorokanku mengering tiba-tiba.

“KYAAAAAAAAA!!”

Bugh! Aku merasakan rasa sakit persis di jidatku. Semuanya gelap. Sesuatu yang keras seakan baru saja bertumbukan hebat dengan kepalaku.

“Appoo…” rintihku pelan.

“YA! Tidak bisa ya kau bangun dengan cara normal saja?” kudengar sesorang berteriak lantang padaku.

Tunggu. Suara ini?

Aku membuka mataku perlahan-lahan.

Wajah yang kukenal itu sedang memegangi jidatnya dengan mulut mengerucut.

Kutatap keasingan di sekelilingku.

Deretan bangku yang berjajar rapi segera menyergap penglihatanku.

Aku—

—di bus?

Tunggu, bukannya harusnya aku ada di kebun bambu?

Dan bukannya sekarang sudah malam?

Lalu.. kejadian tadi…

“Yonjae… kau…”

“Apa??? Cepat bangun, yang lain sudah menunggu dari tadi. Dasar kau ini. Jauh-jauh ke tempat ini malah asik tidur. Ppalli~.” Yoonjae menarikku dari tempat dudukku dan segera mengarahkanku keluar dari bus.

“Yoonjae, ini benar-benar kau kan? Kau masih hidup kan?” Pertanyaan itu meluncur dari mulutku begitu saja dan segera dibalas dengan tatapan tajam yang jarang-jarang ia berikan padaku.

“Tentu sajaa~ kalau aku tidak hidup mana bisa aku menarikmu seperti ini?” Ia menyentil dahiku dengan telunjuknya.

Kau terbunuh.

Setidaknya itu yang terjadi dalam mimpiku.

Tapi.. lupakan. Itu hanya mimpi. Benar-benar mimpi, karena aku bisa merasakan sentilan tangan Yoonjae begitu menyakitkan saat ini.

Semilir angin pegunungan segera menyambutku saat kulangkahkan kakiku keluar. Mendung masih menyisakan sedikit awan gelap. Menambahkan sensasi dingin yang baru saja menyapaku lembut. Tapi, bukan hawa dingin itu yang mebuat tubuhku membeku tanpa kehilangan suhu saat.

Bangunan bergaya Eropa di depanku. Lalu…

Dua pasang manik besar yang sedang menatapku.

“Selamat dataaaaang~~,” ucap mereka dengan senyum terkembang lebar di bibirnya.

Tunggu.

DÉJÀ VU?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s