[Ficlet] A Dream

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Kim Boram [OC]

*) Lee Hyena [OC]

*) L.Joe / Lee Byunghun [Teen Top]

Genre : Romance tapi lebih ke   Friendship sih

a/n : terusik mimpi, dan Byunghun yg terbayang.. efek stress gegara sang sahabat. Eljoenya dibikin tuaan deh yak! Happy reading ^^’
A DREAM

Boram berjalan dengan perasaan senang. Dia pergi menuju kediaman sahabatnya, Lee Hyena. Begitu pintu tempat Hyena tinggal terbuka, Boram langsung berhambur untuk memeluk Hyena. “Aku akan menyusulmu!” Dia bersorak sambil memeluk sahabatnya itu.

Merasa Hyena memberontak, Boram melepaskan pelukannya dan mundur. Senyuman bahagia terlihat jelas di wajahnya. Dia makin lebar memperlihatkan senyumannya saat melihat tampang bingung Hyena. “Aku akan bertunangan.” Ucapnya menjelaskan kenapa dia begitu bahagia.

Dua minggu yang lalu Boram mendapati Hyena bertunangan. Dia bahagia. Berpikir sahabatnya tak akan lama lagi akan mengikat janji suci. Dia cemburu. Ingin rasanya dia merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Terikat dengan pria yang akan menjadi masa depannya. Tapi Boram tidak seperti Hyena, dia tidak berhubungan dengan pria seperti Hyena. Tapi dua minggu kemudian rasa bahagia itu bisa dia rasakan. Meski status laki-laki itu sebelumnya hanya teman, tapi dia percaya rasa bahagianya itu bukan bahagia sesaat.

“Kau…. bertunangan dengan siapa?” Hyena bertanya dengan wajah bingung.

Terang saja, Boram mana pernah mengenalkan pria dengan status pacar, tidak sejak enam tahun yang lalu. “Lee Byunghun.” Boram menyebutkan sebuah nama.

Mata Hyena langsung membesar, mulutnya terbuka memperlihatkan keterkejutannya. “Pemuda itu?” Dia bertanya dengan nada tinggi.

Boram tertawa melihat reaksi Hyena. Karena prianya adalah seorang pemuda, laki-laki yang usianya terpaut tiga tahun lebih muda dari dirinya. “Aku yakin kau akan kaget. Tapi aku suka melihat reaksimu. Lucu.” Boram bicara.

“Tapi… tapi… tapi kenapa bisa?” Hyena masih dalam kondisi kagetnya.

“Karena dia mencintaiku dan aku yakin dengan cintanya, sederhana.” Jawab Boram.

Boram yakin Hyena makin kaget. Pola pikir yang dia punya memang sering membuat Hyena menepuk jidatnya. Heran, bingung, terlalu tidak terduga dan kadang tidak masuk akal.

“Aku percaya padanya. Dan aku merasa bahagia saat ini. Kau mau menemaniku nanti malam? Dia akan melamarku resmi nanti malam.” Boram bicara lagi. Dan Hyena makin kaget dibuatnya. “Ah sudahlah. Aku tunggu kau nanti malam, oke.” Ucap Boram dan kemudian pergi dari kediaman Hyena. Hendak memberi tahu orang tuanya, tersenyum geli begitu mengingat reaksi Hyena. Berpikir orang tuanya mungkin tidak akan seterkejut Hyena, karena dia putri orang tuanya. Sifatnya yang seperti ini adalah turunan dari sang ibu.

Hari-hari jadi lebih menyenangkan dari sebelumnya. Sangat mudah untuk membuat Boram tersenyum, dia cukup menatap cincin emas putih tipis dengan batu berlian yang tersemat di jari manisnya. Dia bahkan tidak melepaskan cincin itu ketika tidur, hanya saat mandi dia lepas. Boram sudah bersiap pergi ke tempat kerjanya, selesai dengan sarapan pagi bersama orang tuanya saat bel rumahnya berbunyi.

“Biar aku.” Ucap Boram pada ibunya yang hendak bangkit dari tempat duduknya.

Dia berjalan menuju pintu depan, dan terkaget waktu melihat Byunghun ada disana. “Kau ada apa kesini pagi-pagi?” Tanya Boram.

“Melihat noona.” Jawab Byunghun dengan senyum tampannya. “Aku ingin mengantar noona kerja.” Dia menambahkan.

Mata Boram berkedip beberapa kali. Dia terpaku cukup lama sebelum kemudian mendorong tubuh Byunghun keluar. Menjauh dari bangunan rumah. “Sana pergi! Aku tidak mau diantar olehmu.” Usir Boram.

“Wae? Aku hanya ingin mengantar noona, kita bisa bersama pagi ini.” Byunghun menghentikan langkahnya yang praktis membuat usaha Boram mendorong Byunghun sia-sia.

Boram berdiri dengan tampang galak, dia berkacak pinggang. “Tempat kerjamu itu beda arah denganku. Kau bisa terlambat kalau mengantarku dulu.” Terang Boram. “Sana pergi!” Ucapnya sambil mengibaskan tangan, mengusir.

“Aku ingin bersama noona.” Ucap Byunghun bernada merajuk. Boram mati-matian untuk menyembunyikan rasa senangnya.

“Pergilah. Kita bertemu setelah kau pulang kerja nanti, oke?” Ucap Boram lebih lembut.

“Baik aku pergi. Tapi kita makan malam bersama nanti.” Tuntut Byunghun.

“Araaa~ sekarang pergilah!” Boram mendorong lagi Byunghun agar segera pergi. Karena dia tahu tempat kerja Byunghun itu tidak dekat.

“Aku jemput nanti malam.” Byunghun bicara sebelum menghilang ke dalam mobilnya.

Boram senyum-senyum sambil memandang kepergian Byunghun.

Boram meregangkan otot-ototnya yang kaku karena duduk cukup lama. Dia menatap jam yang menunjukkan waktu kerjanya sudah selesai. Dia kemudian menoleh ke samping, tempat meja Hyena berada.

“Kau mau ikut makan malam denganku?” Dia bertanya pada Hyena yang sedang membereskan mejanya.

“Tidak. Aku tidak ingin mengganggumu.” Kata Hyena tanpa menoleh.

“Sudah tiga hari sejak pertunanganku, kau masih saja bersikap dingin padaku. Aku sedih tahu.” Boram bicara dengan wajah sedihnya. Dia melihat Hyena diam, menghela nafas kemudian melihatnya.

“Aku hanya heran, kenapa kau bisa mudah saja menerima. Kalian hanya teman, dan kau mau mau saja bertunangan dengannya.”

Boram melihat Hyena memang masih tidak bisa menerima keputusannya. “Byunghun memang baik. Dari dulu, saat kami berkenalan, dia selalu menunjukkan perhatiannya tanpa membuatku tidak nyaman. Kalau kau tidak percaya padanya karena dia lebih muda, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi aku bisa menjamin kalau dia lebih dewasa daripada aku.” Boram menjelaskan.

“Bukan begitu.” Hyena berkata. “Tapi kenapa kau tidak mencoba untuk berpacaran dulu dengan dia? Kenapa harus bertunangan?”

“Karena aku ingin sepertimu.” Jawab Boram. “Karena aku cemburu saat melihatmu bertunangan dengan Kibum oppa.” Dia melanjutkan. “Dari kecil aku sudah ingin, saat dewasa, saat menikah, kalau bisa aku ingin menikah bersamamu. Kita berdua berjalan di altar bersama-sama. Sampai sekarang keinginanku itu belum berubah.” Dia menatap Hyena dengan mata sendu.

Dari kecil, teman Boram datang dan pergi. Hanya satu orang yang Boram anggap sebagai sahabat, seseorang yang sedang menatapnya.

Hyena tersenyum. “Ara, aku percaya. Aku hanya takut kalau Byunghun bukan yang terbaik untukmu.”

Boram menggeleng. “Tujuh tahun sudah cukup bagiku untuk tahu dia terbaik atau tidak. Kami sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing.”

“Ara ara.”

Boram melihat Hyena kembali membereskan mejanya. Dia agak sedih karena Hyena masih belum bisa tulus menerima keputusannya.

Ppptttt….

Boram menatap ke langit-langit. Tempatnya kini gelap karena lampu mendadak padam. Dia buru-buru mengambil ponselnya sebagai sumber cahaya. Tapi kemudian Boram menoleh ke sampingnya.

Puluhan cahaya dari ponsel rekan-rekan kerjanya mengelilingi Hyena.

Hyena terlihat bingung di tengah sorotan cahaya. “Ada apa ini?” Hyena bertanya tapi tak ada satupun yang menjawab.

Dan kemudian, lagu cinta dari Super Junior mengalun, Marry You.

Kibum muncul di antara kerumunan orang-orang. “Aku memang belum lama menyematkan cincin di jari manismu. Tapi hatiku terus memaksaku untuk segera memilikimu sepenuhnya. Maukah kau menikah denganku?” Kibum bertanya setelah memberikan bunga mawar kesukaan Hyena. Dia membuka kotak kecil berupa cincin.

Boram memperhatikan dengan tampang sedihnya. Dia mengacak rambutnya. “Aku baru bertunangan tiga hari dan kau malah mau menikah.” Kata Boram dengan tampang frustasi.

“Ya! Boram, ireona!”

Boram bangun dari tempat duduknya, dia menoleh ke arah Hyena yang terlihat bingung.

“Kenapa bisa kau ketiduran di jam kerja eoh? Kau kurang tidur semalam?” Hyena bertanya ketika Boram sudah kembali duduk.

Boram menatap Hyena. “Kau belum akan menikah kan?” Dia bertanya.

Hyena menggeleng masih dengan bingung. “Tidak. Aku masih belum mau menikah sekarang-sekarang.” Jawabnya.

“Syukurlah hanya mimpi.” Kata Boram sambil menghela nafas lega. Dia melihat jam tangannya, masih satu jam menuju jam pulang. “Aku ke toilet dulu.” Ucapnya pada Hyena.

Boram berjalan sedikit lemas, akibat tadi dia kehilangan kesadaran. Dia berniat mencuci mukanya. Belom sampai dia ke toilet, lampu di kantornya mati semua. “Oh, tidak!!”

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s