[Oneshot] One Day Boyfriend

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Yoo Nayeon [OC]

*) Oh Sehun [Exo]

Genre : AU, Romance

Disclaim : just own plot

a/n : mendadak kepikiran bikin yg kek ginian, berasa pernah baca komik yg mirip (tapi gak mirip banget) tapi aku lupa. Birthday present buat ditjao yg ultah bulan Februari kemaren. Happy reading ^^

One Day Boyfriend



Teett….

“Eomma ada tamu!” Nayeon berteriak di atas tempat tidurnya. Dia baru saja bangun, terbangun karena suara bel rumahnya.

Teett…

“Eomma!” Teriak Nayeon lagi.

Teettt…

“EOMMA!!!” Kali ini Nayeon menaikkan nada suaranya. “Ah, aku lupa kalau eomma tidak ada.” Nayeon menepuk keningnya masih dalam posisi terbaring. Dia baru ingat kalau ibunya sedang berada di kampung halaman bersama sang ayah untuk menjenguk kakeknya.

Dengan malas Nayeon akhirnya bangun dari tempat tidur tapi tidak beranjak kemanapun. Dia duduk di tepian kasur, menggeliat.

Ttettt…..

“Iya aku kesana sekaraangg.. hhemm..” Ucap Nayeon yang kemudian menguap, merasa masih ngantuk. Raut wajahnya berubah kesal begitu melihat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul enam pagi. “Siapa sih yang berkunjung pagi-pagi buta begini?” Nayeon bertanya sambil berjalan gontai meninggalkan kamarnya.

Teett…

“IYA SEBENTARRRR….”

Nayeon mempercepat langkahnya. Setengah berlari menuju pintu depan rumahnya.

Ekspresi kesal Nayeon menghilang begitu saja sesaat setelah dia membuka pintu dan melihat orang yang berdiri di depannya. “Eoh, nuguseyo?” Tanyanya.

Seorang pemuda tinggi kurus putih, mengenakan jeans biru dan kemeja senada dengan celananya diam saja ditanya oleh Nayeon. Tak lama dia menurunkan ransel di pundaknya, mengambil sesuatu dari dalam ranselnya itu dan menyerahkannya pada Nayeon. Ekspresinya sama sekali tidak bisa ditebak. Begitu datar.

Nayeon-ah! Saengil chukkae >,<

Eonni minggu kemarin menemukan situs ‘One Day Boyfriend’ dan langsung teringat padamu :p namja  di depanmu adalah hadiah dari eonni untukmu. Silakan menikmati pacar seharimu. Semoga kau senang dan tidak kesepian tahun ini, kekeke~

Pstt.. testimoni dari yang lain bilang kalau namja ini sangaaaaaattttttttt memuaskan sebagai pacar ^-^

-Kim Boram

“MWO??? Ige mwoya?” Kini ekspresi Nayeon penuh tanda tanya, bingung.

Senyuman kemudian muncul dari bibir pemuda di depan Nayeon. “Mari kita date hari ini. Chagi.” Ucapnya sama manis seperti senyumannya.

-o0o-

Nayeon melirik beberapa kali pada pemuda yang duduk di sampingnya. Dia dan pemuda yang datang ke rumahnya yang kemudian mengaku bernama Oh Sehun itu sedang berada di dalam subway yang akan mengantarkan keduanya ke Lotte World. Dia masih tidak percaya pada dirinya sendiri kenapa bisa bersama Oh Sehun itu. Mengijinkan Sehun masuk ke dalam rumahnya, memperbolehkan pemuda itu membuat sarapan di dapurnya untuk mereka berdua saat Nayeon mandi, dan menyetujui untuk berkencan dengan orang yang sama sekali tidak dia kenal.

Oke, Sehun tampan, menarik. Dia bahkan pintar bicara dan membuat suasana tidak canggung. Tapi tetap saja Sehun itu orang lain. Nayeon berpikir dia sudah gila. Menyetujui untuk pergi dengan Sehun, menjelaskan secara tesirat kalau dia memang kesepian. Betapa menyedihkannya dia membuka aibnya sendiri seperti itu.

“Berhenti melirikku seperti itu. Kau bisa memandangku sepuasmu.” Sehun berucap.

Nayeon membelalakkan matanya mendengar ucapan blak-blakan Sehun. Tambahan, pemuda di sampingnya ini terlalu percaya diri dengan penampilan yang dia punya.

“Sebenarnya, One Day Boyfriend itu apa?” Nayeon bertanya, mengacuhkan apapun mengenai sikap Sehun.

Sehun menoleh. Menatap dalam Nayeon, membuat gadis itu salah tingkah. Dia tersenyum jail melihat Nayeon yang berusaha menghindari tatapannya.

“Sial. Namja ini benar-benar menyebalkan.” Ucap Nayeon tanpa suara.

“One Day Boyfriend adalah situs yang dibuat untuk orang-orang kesepian sepertimu.” Ucap Sehun. Ada nada puas di suaranya karena berhasil meledek Nayeon lagi. “Bercanda. Kami dibayar untuk menjadi pacar sehari orang yang mengisi form di situs kami. Tapi tidak semua permintaan kami layani, hanya beberapa yang kami anggap memenuhi syarat kami.” Terang Sehun panjang.

Nayeon hanya ber’oo…’ ria sebagai reaksi atas penjelasan Sehun. Otaknya berputar, mencari sesuatu yang dia rasa familiar dengan cerita Sehun. “Sepertinya aku pernah membaca komik yang mirip.” Kata Nayeon setelah sekian lama.

Sehun hanya tersenyum. Tak berkomentar apapun.

“Eh?” Nayeon hampir bangun dari duduknya saat menyadari tangan kanan Sehun kini sudah menggenggam tangan kirinya. Dia tadi masih berusaha mengingat-ingat komik yang dulu dibacanya, sampai tidak sadar kalau Sehun sudah ‘menyentuhnya’.

“Pacar wajar melakukan ini.” Kata Sehun datar.

Nayeon hanya menghembuskan nafas panjang. Dia memang jomblo sepanjang hidupnya. Tapi berusaha senormal mungkin agar tidak semakin membuat dirinya malu sendiri. Dan itu sulit.

Tak lama kemudian tempat tujuan mereka sudah tak jauh lagi. Nayeon dan Sehun bersiap untuk turun dari subway.

Lagi-lagi Nayeon merasa salah tingkah saat Sehun menarik dirinya dan melindunginya dengan tangan Sehun. Ini memang bukan akhir minggu, tapi penumpang subway yang akan mengunjungi Lotte World cukup banyak sehingga sedikit berdesakan di dalam subway.

‘Dia benar-benar tipe namjachingu yang baik. Pantas saja dibilang memuaskan.’ Nayeon berucap dalam hati ketika akhirnya subway berhenti dan keduanya turun. Tangan kanan Sehun kembali ke posisi sebelumnya, menggenggam tangan kiri Nayeon.

“Magic Island?” Sehun bertanya pada Nayeon.

“Eh? Iya.” Nayeon masih belum benar-benar merasa terbiasa dengan perlakuan pemuda di sampingnya.

Sehun tersenyum lagi dan mengajak Nayeon untuk masuk ke arena taman bermain itu.

-o0o-

Sehun gila!

Itu yang ada di pikiran Nayeon. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa orang itu mengajak Nayeon untuk menaiki wahana-wahana itu. Begitu masuk, Sehun langsung menarik Nayeon untuk menaiki Gyro Swing dan Gyro Drop. Nayeon merasa dia tidak akan bisa bergerak lagi.

Sekarang dia duduk di bangku, mengistirahatkan tubuhnya yang setengah hidup setengah mati. Nayeon diam memandang sosok Sehun yang berada di antrian untuk menikmati Flume Ride.

“Aaahhh, aku salah. Seharusnya aku tidak mengiyakan dia untuk kemari. Seharusnya langsung ke dalam saja.” Nayeon mengeluh sambil memukul kepalanya. “Aku cabut kata-kataku yang mengatakan dia namjachingu yang baik. Buktinya dia meninggalkan aku sendiri di sini. Padahal aku lemas dan haus gara-gara dua mainan itu.” Nayeon melanjutkan keluhannya.

“Aku tidak meninggalkanmu.”

Nayeon langsung diam, dia menoleh ke belakang dan Sehun sudah berdiri di sana. “Eh, Sehun-ssi.” Nayeon mengedipkan matanya beberapa kali. Tidak menyangka Sehun akan ada di sana.

“Oppa!” Ralat Sehun.

Nayeon memainkan bibirnya kesal. “Oppa.” Ucapnya. “Tidak  jadi naik eoh?” Dia bertanya.

Sehun menggeleng. “Karena aku merasa ada orang yang tidak mau aku naik. Takut nanti kapalnya malah karam, lebih baik tidak jadi naik.” Terang Sehun entah berniat bercanda atau bagaimana. Sehun lalu berjalan mengitari bangku, memposisikan diri untuk duduk di samping Nayeon.

“Dinggggiiiinnnn….” Nayeon langsung bangun dan memegang pipinya. Dia melihat Sehun yang tangannya terangkat ke atas, tempat tadi pipinya berada dengan sebuah ice cone di tangannya. “Oppa! Ini masih musim dingin, kenapa malah memberiku es sih?” Nayeon bertanya dengan tampang kesal. Dia menggosok pipinya agar kembali hangat.

“Hampir musim semi, sudah lumayan hangat. Lagipula, ini eskrim cokelat.” Kata Sehun.

Nayeon berjengit. Tidak mengerti maksud ucapan terakhir Sehun.

“Noona yang menyewaku untukmu mengatakan itu tadi pagi. Oppa disuruh datang ke flatnya jam setengah enam pagi dan disuguhi eskrim cokelat pagi-pagi.” Terang Sehun yang melihat tanda tanya besar di wajah Nayeon. “Kenalanmu itu aneh sekali.” Komentarnya.

Nayeon kembali duduk dan mengambil ice cone yang diberikan Sehun. “Boram eonni memang aneh.” Nayeon menyetujui. “Oppa, kita masuk yuk, aku lapar. Tadi pagi kita hanya makan sedikit.” Ajak Nayeon. Dia mengingat sepotong sandwich yang menjadi sarapannya tadi pagi. Tidak cukup untuk membuatnya kenyang dalam waktu yang lama.

“Anything for you Princess.” Kata Sehun sambil menautkan jari-jari tangan kanannya di sela jari-jari tangan kiri Nayeon.

Wajah Nayeon langsung memerah. Dua serangan sekaligus benar-benar membuatnya tidak tahan. Ucapan Sehun, dan tautan tangan berbeda. Jantung Nayeon memompa darah begitu cepat, dia merasa udara semakin dingin karena suhu tubuhnya naik.

“Kajja!”

Ajakan Sehun mengembalikan sedikit kesadaran Nayeon. Tapi dia tidak benar-benar sadar saat perjalanan ke dalam bangunan di kompleks taman bermain itu.

Karena Nayeon merasa sangat lapar, dia langsung saja menuju tempat makan. Dan tak lama, meja tempat makan mereka sudah dipenuhi cukup banyak makanan.

“Oppa tidak makan?” Nayeon bertanya menyadari kalau makanan di atas meja semuanya adalah pesanannya sendiri.

Sehun menggeleng. “Kau itu hebat ya kalau soal makan. Mengacuhkan pacarmu sendiri. Padahal yeoja biasanya lebih senang terlihat sedang diet di depan pacar.” Komentar Sehun sambil menatap Nayeon yang sibuk makan. Dia mengambil beberapa potong makanan milik Nayeon,

“Pertama, ini hari ulang tahunku. Anggap saja semua makanan ini pengganti sup rumput laut dan kue ulang tahunku. Kedua, aku ini masih dalam tahap pertumbuhan, jadi harus mendapatkan banyak asupan gizi. Ketiga, oppa toh hanya jadi pacar selama sehari…..”

Nayeon tidak jadi menyendok kuah ramyeon di depannya. Dia diam. Mengingat kalimat terakhir yang baru saja dia ucapkan. Rasanya ada yang menggelitik di dadanya, tidak menyenangkan.

“Wae?” Sehun bertanya, tidak menyadari apa yang ada di otak Nayeon.

Nayeon menggeleng, lalu tersenyum. “Waktu kita berapa lama lagi?” Dia bertanya.

Sehun mengalihkan perhartiannya ke jam di tangannya. “Oppa dibayar sampai jam tujuh. Masih lama, sekitar delapan jam lagi.” Jawabnya.

Nayeon mengangguk. Dia mencoba menghitung. Perjalanan ke rumahnya cukup memakan waktu, dan itu artinya kurang lebih dia punya waktu enam setengah jam berada di tempat itu. “Oke, selesai makan kita puas-puaskan diri bermain di sini, eottohke?” Nayeon bertanya.

“As your wish.” Sehun menjawab lengkap dengan senyuman manisnya.

Wajah Nayeon memerah seketika. Dia lalu membenamkan diri dengan makanan-makanan yang ada di hadapannya.

-o0o-

“Hhhhh…..” Nayeon menghembuskan nafas berat. Dia menatap dirinya sendiri di cermin. Nayeon lalu membasuh wajahnya, menggosoknya setengah kasar. “Kau benar-benar gila Yoo Nayeon.” Ucapnya setelah kembali menatap dirinya. Lagi. Nayeon membasuh wajahnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Nayeon sudah cukup menikmati hari ulang tahunnya yang ditemani seorang pacar. Dan saking menikmatinya dia bahkan tidak ingin ini semua berakhir.

“Oh, kami tidak pernah melayani pelanggan yang sama dua kali.”

Nayeon mengingat ucapan Sehun saat mereka berada di tepian di tempat Ice Skate tadi. Dan sekarang dia menyesal. Memalukan sekali. Dia yakin Sehun akan berpikir kalau dirinya berharap bisa ‘berpacaran’ lagi dengan Sehun. Menyesal juga karena dia tahu fakta mengenai itu sehingga dia menyadari ada rasa yang sangat tidak menyenangkan setelah mendengar hal itu.

Sepertinya Nayeon menyukai Sehun.

“Kau gila kau gila Yoo Nayeon!” Nayeon lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri. “Eonni, kau yang membuatku seperti ini. Ah, kau yang salah Boram eonni.” Lanjutnya. “Walaupun aku memang senang hari ini, tapi tetap saja akan berakhir tidak menyenangkan. Tapi… salahku juga yang mau saja diajak pergi namja itu. Huwaaaa~~” Kali ini Nayeon mengacak rambutnya sendiri. Frustasi.

Dia menatap dirinya. Wajahnya ditekuk, keningnya berkerut, bibirnya maju, rambutnya acak-acakan dan terlihat sangat parah. Nayeon menunduk lesu.

“Kau sakit perut?”

Nayeon mendelik saat Sehun bertanya. Dia menghampiri Sehun yang menunggunya di bangku tak jauh dari tempat Ice Skate.

“Kita naik Ferris Wheel?” Sehun bertanya lagi begitu merasa Nayeon tidak mungkin menjawab pertanyaannya.

Nayeon akhirnya mengangguk. mereka lantas kembali keluar. Perasaannya benar-benar kacau. Hanya sebentar lagi sampai waktu mereka pulang ke rumah. Dan sebentar lagi sampai dia dan Sehun berpisah. Benar-benar terasa tidak menyenangkan untuknya.

Perjalanan ke arena Kincir Raksasa cukup jauh dan memakan waktu. Dan Nayeon tetap merasa tidak nyaman dengan suasana hatinya. Meski Sehun masih memperlakukannya sama. Bertautan tangan.

“Wae? Kau aneh sejak kembali dari toilet tadi. Apa kau sakit?” Sehun bertanya.

Nayeon menggeleng pelan. Detik berikutnya mata Nayeon membulat, matanya beralih pada Sehun. “Ige mwoya?” Tanyanya saat tangan Sehun yang bebas berada di depan wajah Nayeon, dengan sesuatu di tangannya itu.

“Phone strap.” Jawab Sehun pendek.

Nayeon mengambil gantungan ponsel di tangan Sehun. Menatapnya. Sebuah gantungan berbentuk pensil. “Pensil?” Dia kembali bertanya.

“Lucu saja.”

Nayeon berjengit. Selera orang di sampingnya itu tidak biasa, menurutnya. “Gomawo.” Ucapnya.

Sehun tersenyum dan kemudian mereka melanjutkan perjalanan keduanya.

“Oppa, ulang tahunmu kapan?”

Mengacuhkan perasaannya yang kacau, Nayeon bertekad untuk tahu lebih banyak soal Sehun. Setidaknya untuk kenang-kenangan dia nanti. Mereka sudah berada di dalam Kincir Raksasa, masih dalam perjalanan menuju puncak.

“12 April. Kita beda satu tahun.” Jawab Sehun.

Nayeon mengangguk, memasukkan informasi itu ke dalam otaknya. “Keluarga oppa?” Tanya Nayeon lagi.

Sehun tertawa. “Wae? Ingin tahu banyak tentang oppa huh?” Balik tanya Sehun yang tepat sasaran. “Satu eomma, satu appa, satu hyung. Suka sushi dan makanan pedas, minuman kesukaanku Bubble Tea. Kuliah di Fakultas kesenian, kampus dan jurusannya rahasia. Suka akting juga, tapi hanya suka. Enough?” Sehun bertanya lagi setelah menerangkan tentangnya.

Nayeon menggeleng. “Warna favorit oppa, tipe yeoja, hal yang ditakuti, apa oppa pintar atau bodoh saat sekolah dulu, pernah berkelahi atau tidak, punya binatang peliharaan atau tidak….”

“Hei!” Sehun memotong ucapan Nayeon.

Nayeon yang sedang bicara sambil menaikkan jari-jarinya, menghitung jumlah pertanyaan yang dia ajukan langsung diam dan menatap Sehun.

“Aku ini namjachingu, bukan narasumber.”

“Oppa memang namjachingu. Dan sebagai yeojachingu, aku berhak tahu mengenai oppa.” Nayeon berargumen.

Sehun tersenyum. “Sayangnya, pertanyaan yang bisa dijawab hanya sebagian. Oppa punya privasi yang harus tetap dijaga. Arachi?”

Nayeon menghembuskan nafas tidak rela, walaupun kemudian dia mengangguk. “Satu pertanyaan, kenapa oppa mau menjadi one day boyfriend? Dan apa kita benar-benar tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini?”

“Itu dua pertanyaan Princess.” Sehun mengoreksi. Tapi tetap menjawab dua pertanyaan Nayeon “Pertanyaan pertama, entahlah. Sampai sekarang juga oppa tidak mengerti kenapa mau. Dibilang menyenangkan iya, tapi tidak juga. Mencoba memahami perasaan perempuan? Mungkin itu, tapi tidak pasti juga.” Sehun tertawa. “Yang kedua juga entah. Oppa punya hidup bersama orang lain juga. Mungkin kita bisa bertemu, suatu saat di pinggir jalan. Tapi kemungkinan oppa akan pura-pura tidak kenal. Karena faktanya kita bukan siapa-siapa setelah hari ini.”

Deggg….

Seperti ada yang menekan dada Nayeon kuat-kuat. Rasanya sesak sekali mendengar apa yang diucapkan Sehun. Tapi Nayeon berusaha menyembunyikan apa yang dirasakannya itu dan tersenyum. “Ne, kita bukan siapa-siapa setelah ini. Gomawo oppa untuk hari ini. Aku merasa hari ulang tahunku benar-benar berbeda, menyenangkan.”Kata Nayeon. Masih berusaha untuk bersikap biasa, walaupun sedikit gagal karena suaranya sedikit bergetar.

Nayeon lalu melihat keluar, mereka sudah berada di puncak cukup lama ternyata. Nayeon menikmati pemandangan yang sudah mulai gelap. Begitu juga Sehun. Mereka menikmati keindahan dalam diam.

“Kita langsung pulang setelah ini ya oppa. Aku lelah.” Kata Nayeon sebelum Kincir Raksasa itu mendaratkan keduanya.

Sehun mengangguk.

-o0o-

“Begitu kau masuk, semuanya selesai. Ah! Saengil chukkae.”

Nayeon hanya diam begitu tubuhnya menghangat karena Sehun memeluknya, setelah memberinya ucapan selamat ulang tahun. Dia ingin membalasnya, tapi terlalu takut tidak ingin melepaskannya nanti. Berusaha untuk mengendalikan diri. Tapi tetap saja jantungnya berdegup dengan cukup kencang. Dia bisa merasakannya sendiri, terpantul lewat bada Sehun.

Sehun lalu melepaskan pelukannya, dan Nayeon diam-diam bernafas lega sambil melangkah mundur.

“Boleh minta hadiah terakhir?” Nayeon sudah membulatkan tekad. Dia tersenyum saat Sehun mengangguk. “Kisseu.” Bisik Nayeon. Wajahnya berubah merah begitu mengucapkan kata itu. Jantungnya makin berdegup kencang dan hampir keluar.

Sehun tertawa. “I can’t Princess.” Ucapnya. “Oppa tidak akan melakukannya.”

Nayeon memainkan bibirnya sambil menunduk. Wajah malunya bercampur dengan kesal juga marah. Marah karena dia bisa dengan lancang meminta hal seperti itu.

Sreett… Chu…

Otak Nayeon tidak cukup cepat untuk mencerna apa yang barusan terjadi. Sehun berdiri di depannya, dengan jarak yang lebih dekat dari yang sebelumnya. Nayeon sendiri memegang keningnya dengan tangannya, tempat tadi Sehun mendaratkan bibirnya. Mata Nayeon mengerjap beberapa kali sambil menatap ke arah Sehun.

Sehun tersenyum.. tersenyum dan kemudian tertawa. “Oppa benar-benar tidak tahan dengan wajah kagetmu itu.” Kata Sehun setelah tertawa. “Birthday present. Sekarang kau masuk ke rumah sana.” Sehun mendorong Nayeon untuk masuk ke dalam rumahnya.

Mau tidak mau Nayeon menuruti perintah Sehun, dia berjalan memasuki rumahnya walaupun dengan perasaan berat. Nayeon kemudian berbalik. “Pertanyaan terakhir, apa aku cantik?”

Sehun tertawa lagi. “Tentu saja. Kau cukup cantik.” Jawab Sehun.

Nayeon lalu mengangguk dan masuk ke dalam rumahnya dengan mantap. “Setidaknya kalau aku cantik Sehun oppa akan mengingat wajahku.” Ucap Nayeon dalam hati. “Tunggu! Tadi dia bilang cukup.” Kata Nayeon, dia lalu berlari keluar rumahnya tapi tidak menemukan sosok Sehun. “Ah, dia sudah pergi.” Sesalnya. Nayeon mengambil ponselnya dari dalam tas, menatap gantungan ponsel yang diberikan oleh Sehun. “Aku dapat dua hadiah hari ini.” Ucapnya riang sebelum kemudian kembali ke dalam rumahnya.

-end-

Advertisements

4 responses »

  1. huah eonni aku pnsrn sama perasaan sehun oppa, dia suka sama nayeon apa enggak?
    bikin sequelnya ya eonni….
    soalnya aku masih pnsrn sama crt.a…..
    (*¯︶¯*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s