[J-Line Series] Obsession – 4th Victim

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Choi Jonghoon [FT Island]

*) Kim Jongwoon [Super Junior]

 Genre : Thriller, Tragedy, AU, OOC

Length : Ficlet [786 words]

Rate : PG – 15

Credit Pic : Aishita World

Disclaim : pemilik jalan cerita :p

a/n : whew, emakjino datang lagi dgn J-Line Series dia yg ktunda sekian lama, hehe.. maap napsu bunuh saia gak timbul2 jadi’a gak kelar2, padahal kudu’a ni org jd korban k’2 malah molor jd k’4 :p rate’a aku turunin lagi soal’a ini gk seasik pas bikin yg jinki tapi Asti yg lain bilang kalo ini lebih dr yg punya Jinki, nah loh. Kalian yg nilai deh. happy reading ^^

Obsession4

Previous Victim :  1st Victim – Lee Jonghyun | 2nd Victim – Kim Jaejoong | 3rd Victim : Lee Jinki |

Jonghoon merasa tubuhnya kaku dan sulit untuk bergerak. Perlahan dia membuka matanya dan hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit dari gym miliknya. Jonghoon berusaha bergerak tapi tak bisa. Dia menyadari kalau tangan terikat di atas tread mill dan kakinya terikat pada barbel besar di depannya, tanpa sehelai benangpun menutupi bagian atas tubuhnya. Jonghoon berusaha menggerakkan tangan dan kakinya untuk melepaskan tali itu, tapi usahanya sia-sia. Ikatan tali itu begitu kuat. Dan barbel di dekat kakinya tidak mau mnggelinding karena ditahan sesuatu yang tidak terlihat jelas oleh mata Jonghoon.

“Sial, siapa yang melakukan ini padaku?” Jonghoon bertanya dalam hati.

“Selamat malam Jonghoon-ssi.”

Sebuah suara, terdengar dingin, membuat Jonghoon menghentikan kegiatannya. Kepalanya dia tolehkan ke samping kiri, tempat sumber suara berasal.

Jonghoon melihat seorang pria yang tidak dia kenal sedang duduk di atas kursi dengan santainya. “Bisa tolong lepaskan aku?” Jonghoon bertanya. Dia merasa bodoh bertanya begitu. Dia tahu jika pria di sampingnya itu adalah orang baik, sudah pasti pria itu melepaskan ikatan di tangannya sebelumnya. Dia curiga justru pria itulah yang mengikatnya.

Pria di samping Jonghoon tersenyum, sedingin nada suaranya tadi. “Aku akan melepaskannya nanti. Aku janji. Setelah aku mengirim jiwamu ke dunia lain.” Ucapnya lagi. Nada yang lebih dingin dan mengancam terasa sangat jelas di kalimat terakhir.

Nafas Jonghoon tercekat mendengar ucapan pria itu. “Neo… nuguseyo?” Dia bertanya sambil berusaha mengatur nafasnya.

“Yang pasti bukan malaikat kematian meski mungkin aku akan mengambil nyawamu.” Pria itu berkata, Kim Jongwoon.

Jonghoon melihat Jongwoon berdiri dari bangkunya, menghampiri dirinya, tepatnya menghampiri alat yang ditiduri olehnya, tepat di atas kepalanya. Jongwoon menekan tombol navigasi di depan pegangan tangan tread mill itu. Perlahan, alat itu mulai bergerak.

Jonghoon merasa kulit punggung terseret karena gerakan tread mill miliknya. “Hentikan! Jebal.” Mohonnya. “Ukh….”

Bukannya menghentikan alat itu, Jongwoon malah menambah kecepatannya.

Jonghoon menggeliat-geliat untuk menghindari gesekan di punggungnya, tapi tetap saja sulit karena ikatan di tangan dan kakinya benar-benar membuatnya sulit bergerak, terlebih ke atas.

“Akkkhhhhh……….” Jonghoon merasakan sakit dan panas di punggungnya.

Jongwoon duduk lagi di bangkunya setelah kembali menambah kecepatan tread mill itu. Dia menikmati Jonghoon yang teriakannya makin keras saja. Seperti nada yang sangat menenangkan hatinya.

“ARRGGHHH……….” Jonghoon benar-benar tidak tahan dengan sakit dan panasnya. Dia bahkan merasa kulit punggungnya sangat perih, yakin sekarang kulitnya terkelupas. Nafas Jonghoon tidak teratur, dia terengah-engah. Abs sempurnanya terlihat begitu indah dipandang saat perutnya bergerak seperti itu.

Selagi mendengarkan teriakan Jonghoon, Jongwoon memperhatikan sekitarnya. Dia melihat barbel 10 kilogram berada di sudut. Dia tersenyum dan mengambil dua buah barbel itu kemudian meletakkannya di tengah dada dan perut Jonghoon, melintang.

Jonghoon berusaha menyingkirkan barbel itu, tubuhnya yang terasa begitu menyakitkan menjadi lebih sulit untuk bergerak karena beban 20 kilogram di atas tubuhnya. Dia berusaha lagi. Tapi tak mudah. Selain tenaganya terkuras karena siksaan menyakitkan dari tread millnya, Jongwoon begitu baik menyimpan barbel itu sehingga tidak mudah menggelinding.

Jongwoon melihat lagi ke sekitarnya. “Tak ada yang menarik.” Ucapnya sambil menoleh pada Jonghoon.

“Errrgghhhh……….” Jonghoon berusaha meredam erangannya namun tidak terlalu berhasil. Nafasnya makin memburu dan tidak teratur.

Kemudian Jonghoon menyadari Jongwoon sudah berjongkok di samping daerah perutnya. Tatapannya memelas, memohon untuk berhenti menerima siksaannya, begitu Jongwoon menoleh ke arahnya.

“Karena aku tidak suka kau, kita akan bersama dalam waktu yang cukup lama.” Jongwoon berkata.

Jonghoon melihat sekilas saat Jongwoon mengeluarkan benda yang berkilauan tertimpa cahaya. Pandangannya tidak terlalu jelas, mengabur karena air matanya keluar. Dia kemudian merasakan beban di atasnya menghilang, Jonghoon tahu Jongwoon sudah mengangkat kedua barbel itu.

Ssrrretttttt…..

Perih yang baru dirasakan Jonghoon di area perutnya, melintang dari perut atas hingga bawah. Meski tidak seperih punggungnya yang dia tidak yakin masih berkulit.

“Kau cukup hebat bisa bertahan dengan sakitmu itu. Tapi tetap saja tidak cukup hebat untuk menghindari kematian.” Jongwoon berucap lagi, tetap dengan nada dinginnya. “Aku membenci abs milikmu, memuakkan!”

Sreett…. Srettt…. Srettt….

“ARRGGHH…!!!!”

Jonghoon merasa Jongwoon menyayat perutnya, menyayat setiap bagian dari absnya. Meski terlentang dan kesadaran yang mulai mengabur, dia bisa melihat darah segar mengucur dari empat sayatan yang dibuat Jongwoon.

Bosan menunggu, Jongwoon kembali ke sudut tempat barbel berbagai berat diletakkan. Dia mengambil semua dalam beberapa kali balikan. Jongwoon meletakkan barbel-barbel itu di atas beberapa bangku yang juga dia pindahkan dari tempat asalnya.

Ada sekitar dua puluh barbel di atas bangku.

“Waktunya pertunjukkan.”

Setelah berkata begitu, Jongwoon mengambil satu barbel yang paling ringan. Menjatuhkan barbel itu dari ketinggian sekitar dadanya.

Buuugg…..

Barbel itu jatuh menimpa pelipis kiri Jonghoon, menciptakan luka baru.

“Ah meleset.” Jongwoon bicara dengan nada yang terkesan menyesal. Tapi dia yakin tengkorak di pelipis Jonghoon pasti retak

Buuughh…..

Bughhhh…..

Bugghhh…..

Jongwoon tidak membuang waktu, dia menjatuhkan barbel-barbel itu dalam waktu singkat ke seluruh tubuh Jonghoon.

Jonghoon sama sekali tidak merasakan sakit setelah mendapatkan barbel yang ke delapan. Dia kehabisan darah saat itu. Daging dan kulit yang berasal dari punggungnya sudah tidak berbentuk di bawah tread mill miliknya.

“Kau tidak seru. Kupikir kau kuat.” Jongwoon menjatuhkan barbel terakhirnya dengan perasaan tak suka.

-end-

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s