[SP] Birthday Gift

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Aku [OC / imagine whoever you want]

*) Yoon Doojoon [Beast]

Other Cast :

*) Seo Yeonha [OC]

a/n : ah… ff cepet, satu scene, kudunya ini series dan agak complicated cuma gegara ini buat DiJe’s Birthday, jadi segala dipangkas u,u aku gak tau musti genre-in apa ff ini. Bingung. Rada abu2 dan bikin ngantuk sih. Happy reading ^^

Tak perlu menggunakan weker, aku tahu aku membuka mataku pukul empat pagi. Sesuai dengan apa yang aku inginkan. Kesadaranku pulih dengan cepat. Aku menoleh ke samping. Seseorang sedang tidur dengan sangat pulas di sana. Aku menatap wajahnya yang hanya dibantu penerangan lampu tidur di samping ranjang.

Siapa aku bagi pria yang tidur seranjang denganku ini? Mengingat itu, aku jadi ingin mentertawakan diri sendiri. Sudah hampir tiga bulan aku dan pria di sampingku berbagi ranjang dan selimut. Tapi aku yang seorang perempuan, sekalipun tidak pernah dijamah oleh pria yang masih terlelap ini. Harusnya aku bersyukur, pria ini begitu memperlakukanku dengan sopan. Tapi aku kadang berpikir, apa aku tidak cukup menggoda baginya? Aku memang tidak pernah berbuat hal yang bisa memancing nafsunya. Tapi, kami hampir tiap malam berbagi ranjang yang sama, tak adakah perasaan muncul di dirinya? Seperti yang terjadi padaku. Aku mulai menyukainya seiring berjalannya waktu.

“Maaf, hanya ada satu ranjang di tempat ini. Dan hanya ada satu ruangan yang bisa dijadikan kamar. Aku tidak bisa tidur jika tidak di ranjang, tapi aku juga tidak bisa membuatmu tidur di sofa. Jadi, kita akan sama-sama tidur di ranjang ini. Aku janji, aku tidak akan bersikap tidak sopan padamu.”

Itu ucapan dia ketika pertama kali aku datang dengan keadaan parah. Waktu itu aku baru saja kehilangan kakakku, keluargaku satu-satunya, akibat kecelakaan lalu lintas yang disengaja oleh orang lain. Aku bersama kakakku waktu itu. Aku melihat hembusan nafas terakhirnya. Itu sangat menyakitkan, bahkan hingga kini.

Pria yang sekarang tidur di sampingku, Yoon Doojoon, adalah teman dari teman kakakku. Dia melindungi aku dari orang yang menginginkan kematianku seperti kakakku. Sejak kejadian itu, aku belum pernah pergi keluar dari tempat ini.

Aku bangun dari tempat tidurku. Pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahku dan menggosok gigi. Setelahnya aku pergi ke dapur. Kemarin aku meminta Yong Junhyung, teman kakakku yang menitipkanku disini, untuk membelikanku beberapa bahan makanan.

Hari ini hari istimewa, jadi aku harus memasak sesuatu yang istimewa.

Aku sibuk sepanjang pagi di dapur. Mengerjakan pekerjaanku dengan santai. Doojoon terbiasa bangun agak siang. Jadi aku tidak perlu cemas akan ketahuan dengan kejutanku untuknya.

Sebenarnya terasa agak aneh aku berbuat seperti. Kami bertemu saat malam hingga pagi. Sisanya, Doojoon menghabiskan waktunya untuk bekerja. Meski kadang, saat akhir pekan, dia sengaja tinggal di rumah karena tahu aku kesepian sendirian terus. Hanya saja, kami jarang berinteraksi. Meski kami hidup bersama untuk waktu yang cukup lama, canggung tetap terasa. Faktanya, kami tidak tahu banyak tentang masing-masing.

Teeettt…..

Aku melirik ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Aku tersenyum, mengecilkan kompor sebelum menghampiri pintu.

“Kau tepat waktu.” Ucapku pada Yeonha.

“Kau tega membuatku menempuh perjalanan jauh pagi-pagi buta hanya untuk sebuah kue.” Kata Yeonha sambil mengikutiku berjalan menuju dapur. Aku tidak bisa meninggalkan masakanku.

Seo Yeonha temanku. Dia menempuh perjalanan tiga jam dari rumahnya kemari. Aku memintanya membeli sebuah kue. Aku tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa meminta tolong orang lain. “Mianhae. Aku tidak mungkin meminta tolong pada Junhyung oppa. Dan aku tidak bisa memesan kuenya karena Junhyung oppa bilang rekeningku diawasi sebulan terakhir. Kalau mereka  tahu aku membuat transaksi di toko dekat sini, mereka bisa menemukanku dengan mudah.” Terangku. “Kalau kau datang kesini kemarin, aku takut Doojoon-ssi tahu semuanya.”

“Ara.” Kata Yeonha sambil menunjukkan rasa simpati. Dia duduk di kursi sementara aku melanjutkan memasakku. “Aku sedih. Kau harus terus bersembunyi seperti ini. Aku harap orang-orang jahat itu cepat ditangkap.” Dia bicara.

“Aku juga.” Harapku.

Aku, dibantu Yeonha menata makanan yang sudah aku masak juga kue yang dibawa Yeonha di meja. Yeonha pamit setelah semuanya selesai. Dengan alasan dia tidak punya kepentingan lain disini.

Setelah semuanya siap, aku pergi mandi. Aku mengenakan pakaian santai terbaikku. Aku tidak punya pakaian selain baju santai dan baju tidur di sini. Yeonha membawa beberapa alat make up tadi. Aku merias diriku sesederhana mungkin agar tidak terlalu mencolok. Dan, aku menunggu Yoon Doojoon sambil duduk di depan meja.

Tidak butuh waktu lama menuggu Doojoon bangun.

“Ada apa ini?” Doojoon bertanya sambil menatapku bingung.

Tampang acak-acakannya setelah bangun tidur selalu terlihat menarik untukku.

“Saengil chukhahamnida.” Aku berucap sambil tersenyum.

Mata Doojoon membulat, tapi kemudian bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tampan. Dia menghampiriku. Duduk di kursi di depanku. “Gomawo.” Dia berkata.

“Cheonmane malseumnida.” Balasku. “Doojoon-ssi, sebaiknya kau cuci muka dulu.” Aku bicara dan wajah Doojoon langsung memerah. Dia menghilang kemudian. Dan kembali dengan rambut depannya basah bekas cuci muka.

“Jadi, bagaimana kau bisa tahu hari ini ulang tahunku?” Doojoon bertanya. Dia terlihat berusaha fokus menatap ke arahku, tapi gagal. Beberapa kali dia melirik ke arah makanan di atas meja.

“Pentingkah?” Aku balik bertanya. “Doojoon-ssi, terima kasih untuk selama ini. Dan ini, anggap saja sebagian dari rasa terima kasihku.”

Doojoon terkekeh. “Boleh aku?…” Dia sudah memegang sendok, sepertinya memang lapar.

“Tentu.”

Doojoon menarik mangkuk sup rumput laut yang sudah aku siapkan. Dia langsung melahapnya. “Mashita. Sudah sangat lama sejak terakhir aku makan sup rumput laut saat ulang tahunku.” Dia bicara sebentar begitu makanan di mulutnya habis dan kembali melahap sisa sup rumput laut di mangkuknya.

“Pelan-pelan Doojoon-ssi.” Aku memperingatkan setengah tertawa.

“AH!”

Aku menatap heran Doojoon yang tiba-tiba berteriak. Dia melepaskan sendok di tangannya, menghabiskan sisa makanan di mulutnya.

“Ternyata kau bisa tertawa.” Dia kemudian bicara.

“Ne?” Aku bertanya bingung.

Doojoon tersenyum. “Kupikir kau terlalu sedih dengan kepergian kakakmu dan lupa bagaimana caranya tersenyum. Tapi sepertinya tidak.”

Begitukah? Ternyata aku dianggap begitu selama ini. Aku memang sedih. Sangat sedih. Tapi waktu terus berjalan. Perasaan sukaku pada Doojoon membuatku merasa lebih baik. Tanpa aku sadari.

“Mianhae.”

Doojoon menggeleng. “Ini hadiah terbaik di ulang tahunku. Aku mendapatkan banyak makanan.” Dia berkata. “Dan kau bisa tersenyum.” Tambahnya.

Aku tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipiku.

“Kau mau menemaniku keluar hari ini?” Doojoon bertanya.

“De?”

“Aku sudah mengambil cuti. Aku free hari ini. Dan rasanya kurang menyenangkan kalau aku menghabiskan hari ulang tahunku di rumah saja. Kita pergi jalan-jalan.” Doojoon menjelaskan.

“Tapi Doojoon-ssi, bagaimana kalau…”

“Kau tenang saja. Aku pemegang sabuk hitam Taekwondo. Dan aku yakin mereka tidak bisa mengenalimu kalau kau sedikit menyamar.” Ucapnya, tahu apa yang aku takutkan. “Ayolah. Aku sudah lama ingin mengajakmu pergi. Tahu kalau kau sudah sangat bosan terkurung di sini. Aku belum mendapatkan kesempatan selama ini. Dan hari ini kesempatan itu datang.” Dia membujukku.

Aku tersenyum. Dia memang pria yang baik. “Baiklah. Tapi nikmati dulu makanannya.” Aku bicara kemudian.

Doojoon mengangguk dan mengambil lagi sendoknya. Dia melihat-lihat makanan yang ada di meja.

Aku hanya diam sambil memperhatikan dia. Mungkin, canggung itu akan pelan-pelan menghilang. Ini hari ulang tahunnya, tapi sepertinya aku yang mendapatkan hadiah.

-end-

Advertisements

2 responses »

  1. kurang greget Eonni… mianhae.. 😦 ga kaya punyan Eonn.. yang laen – laen..
    disini Doojoon ga terlalu dapet deh.. OCnya juga kurang gimana gituuu 😦

    tapi dari awal cerita samapai akhir asyik kok dibacanya 🙂 cuma endingnya kurang aja Eon.. biasanya kan gantung, bagus gitu,, ini kenapa stop disatu titik? but after all dapet deh feel mau kasi kadonya 🙂

    • nah kan? jadi ini idenya tuh series, dipaksa jd os sp.. yg ujung2’a gajelas. terlalu banyak yg dipangkas dr ide semula, gegara gak ada ide buat birhday gift tapi maksa pengen bikin 🙂
      udah abu2, hasil’a emang negatif sih buat eon.. haha~ gak tlalu yakin ..

      eon suka komen kamu, sehati lah kita :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s