Monthly Archives: November 2013

[fiksi] 7 hari

Standard

Warning : galau, bahasa amburadul, rumit (?)

Tujuh hari…

 

Tentang aku dan kenangan tentangmu…

***

“Haruka-chan…” Aku masih ingat dengan jelas saat suara lirih itu menyapaku.

Saat itu bulan sedang bersembunyi di balik awan, di salah satu malam, di sebuah sudut perpustakaan.

“Kau… akan bahagia meski tanpaku, kan?” Lagi-lagi bisikan lirih nyaris tanpa suara.

Bisikan yang cukup keras untuk kudengar, namun tak mampu membuatku merespon sebuah jawaban.

Hening menyelinap saat mata kami bertemu.

Sorot mata sayu, aroma dan bias kepedihan itu begitu jelas ditujukan padaku. Namun, mengabaikan semua itu, aku selalu berpura-pura tak tahu menahu.

“Haruto-kun…” ucapku lirih. “…mengatakan sesuatu?” Aku melepas earphone yang mendendangkan lagu bisu di telingaku, menatapnya dengan kepalsuanku.

Pemilik sorot mata sayu itu menggeleng, tersenyum tipis kemudian.

“Nande mo nai.”

Dia berbohong.

“Sou ka?”

Begitu juga aku.

***

Tujuh hari yang lalu…

 

Apa kau tahu…

 

Aku juga ingin mengatakan hal yang sama kepadamu…

 

***

“Haruka-chan~.”

“Hm?”

Kedua iris gelap itu menerobos iris milikku.

“Apa ada seseorang yang kau sukai?”

Jika saja aku tak pernah tahu batasan mana yang bisa dan tak bisa kulewati, mungkin aku bisa akan menjawabnya dengan ringan, tanpa perlu alasan.

Kau.

Tapi aku tahu aku tak boleh melewati pagar yang tak terlihat itu.

“Berhenti bercanda, aku sedang mengerjakan PR.”

Aku kembali mengalihkan fokusku pada deretan rumus yang harus kupecahkan sementara ia mengerucutkan bibirnya dan mengusap surai kecokelatan miliknya. Terlihat kecewa.

“Haruka tidak asik,” protesnya lirih seraya memutar arah duduknya dan beringsut ke jendela.

***

Enam hari yang lalu…

 

Memori di kelas kala senja itu…

 

Jika aku bisa, aku ingin mengulanginya…

 

Meski jawaban yang akan kukatakan tetaplah sama…

 

***

“Ne ne Haruka-chan, kudengar kau sedang dekat dengan seseorang? Siapa?”

Pandanganku teralih dari cermin di depanku ke sosok mungil gadis di sampingku. Ia masih sempat merapikan rambut ikalnya, mengoleskan lipgloss di bibirnya dan tersenyum puas pada bayangannya di cermin sebelum balas menatapku.

“Apa aku mengenalnya?” Gadis itu kembali mendesakku.

Aku tak langsung menjawab. Kuputar kedua bola mataku, membiarkan engselnya terhenti sejenak saat menyapu salah satu sudut langit-langit.

“Dia…”

Aku kembali terdiam.

Memori-memori itu kembali berlarian di ingatanku. Wajah Haruto saat tersenyum, ekspresinya saat kecewa, suaranya yang selalu menelisik di gendang telingaku, gambaran tentangnya yang terselip di antara lobus-lobus otakku. Bagiku, dia orang yang istimewa.

“Dia…” gadis itu menirukan ucapanku, menunggu kata-kata berikutnya yang harusnya kuverbalkan.

“Dia…”

“Ya?”

Aku melirik gadis di sampingku sejenak. Bola matanya membulat menunggu jawaban.

“Rahasia.”

“Eh?”

“Bukan ‘eh’, ayo cepat keluar, sebentar lagi kelas dimulai.” kilahku sambil tersenyum dan berjalan menjauhi wastafel kamar mandi sekolah, menuju satu-satunya pintu keluar masuk.

“C.. Chotto~ kau sengaja bikin aku penasaran ya?” protesnya.

“Ahaha, ayo cepat jalan~.”

 

***

Lima hari lalu…

 

Rahasia itu akan selalu jadi rahasia kita berdua…

 

***

Seorang pemuda yang ditakdirkan untuk populer. Dicintai banyak orang. Menyenangkan. Dan terkadang kekanakan. Jika harus menggambarkan seorang Haruto, mungkin aku mengatakan semua itu.

Tapi mungkin aku juga akan berkata bahwa dia keras tapi rapuh. Berusaha terlihat tegar dalam nanar. Berusaha jujur dalam kebohongan. Dia sudah berusaha lebih keras dari siapapun.

Dan aku sudah berusaha keras untuk tak pernah ingat semua itu.

“Haruka-chan, ayo pergi!” Kicauan lembut Haruto memecah kepingan-kepingan puzzle yang baru saja terangkai di otakku. Dia bahkan tak menunggu jawaban dariku untuk segera berlari mendahuluiku.

Dan senyumannya saat ia berbalik sejenak kemudian sudah cukup untuk membuatku terdiam dalam bisu.

***

Empat hari yang lalu…

 

Ne, Haruto-kun, apa aku benar-benar sudah mengenalmu…

 

***

Karena Haruto bukan milik siapapun. Karena dia bukan burung yang terkurung dalam sangkar. Dia hanya entitas yang terjebak dalam jeratan bernama keadaan.

“Tiga hari lagi…”

Sepasang kristal bening Haruto menatap kosong pada ranting-ranting sakura yang meranggas di musim gugur. Matanya yang sayu terpejam seiring tarikan nafas pelan yang memasuki rongga dadanya.

“Dan semuanya akan berakhir…”

Nafasku tercekat.

Aku benci kalimat ini.

Aku benci karena aku tahu jelas apa artinya semua ini. Dan aku benci karena aku tak pernah mampu berkata-kata. Aku hanya bisa berpura-pura tak tahu apa-apa.

“Berhentilah bicara yang aneh-aneh. Ayo pulang.”

Lagi-lagi hanya kata-kata dingin berbalut es yang terucap dari mulutku.

***

Tiga hari yang lalu…

 

Haruto… dan aku…

 

***

“Aku akan menghilang saat Haruka-chan sudah bahagia.”

“Eh?”

Dulu, aku begitu naif untuk mencerna kata-kata itu. Aku masih terlalu bodoh untuk mengerti arti sebuah kata menghilang bagi bocah laki-laki di sampingku.

“Haruto… kun?”

Ia tak menjawab, hanya tersenyum tanpa juga menatapku. “Ah, bukan…” Bocah brunette itu tiba-tiba meralat ucapannya. “Mungkin tepatnya…” Terdiam sesaat. “Aku harus menghilang…”

Hanya ada desir angin, kilatan mata yang sendu dan tarikan nafas pelan Haruto.

Dengan lembut ia menatapku.

“Ne.. Haruka-chan.. kau tak akan mencegahku, kan?”

***

Dua hari yang lalu…

 

Sekeping memori dan seikat janji…

 

Setelah tahun-tahun damai berlalu…

 

Kenapa aku harus mengingat semua itu lagi?

 

***

“Jika saat ini aku mencegahmu… Apa kau akan menghentikan langkahmu?”

“Jika saat ini aku menarikmu, akankah porosmu beralih padaku?”

“Jika aku berkata tak ingin, apa kau akan mengabulkan permintaanku?”

Pemuda bernama Haruto itu hanya tersenyum setelah mendengar untaian kata-kata itu keluar dari mulutku.

“Daijobu… Kau pasti akan baik-baik saja, Haruka-chan.”

Itu bukan jawaban yang ingin kudengar, juga bukan sebuah kepastian. Jawaban itu bahkan tak sedikitpun memberiku harapan.

 

***

 

Satu hari yang lalu…

Saat hidupku terasa begitu kelabu…

 

***

Dia tak pernah nyata. Dia tak pernah ada. Dia tidaklah hidup dalam realita. Dia hanyalah sosok maya yang tercipta begitu saja. Dari impian seorang bocah kecil yang tak mampu hidup dalam dunia nyata. Dari sebuah keputusasaan karena tak memiliki siapa-siapa.

“Namaku Haruto.”

 

“Mulai sekarang aku akan ada di samping Haruka-chan.”

 

“Sampai Haruka-chan tak membutuhkanku lagi.”

 

“Haruka-chan, waratte yo!”

 

“Haruka-chan!”

Dia hanya ilusi yang kuciptakan sendiri.

Tapi bahkan ketika ilusi itu menghilang, salah satu bagian diriku ikut mengalami kekosongan.

***

 

Dan hari ini…

 

Ketika aku sudah tak bisa melihatnya lagi.

 

Ketika akhirnya aku harus bangun dari mimpi yang kurangkai sendiri.

 

Sayonara… Haruto-kun…

 

Selamat tinggal… Diriku yang lain…

 

***

Advertisements