Secelumit Cerita Tentang Teman Baru

Standard

Seperti yang sudah kujanjikan, kisah pertama yang akan dibuat di benda sial ini adalah kisah perjalanan bagaimana aku mendapatkannya, dan bagaimana kisah-kisah yang mengiringinya.

Berawal dari rencana keberangkatan untuk mendapatkannya, aku dan rekanku seharusnya berada dalam kereta saat itu. Tapi faktanya, kereta berangkat bahkan sebelum aku berjumpa dengan wilayah kota. Aku masih dalam perjalanan saat kereta tersebut berbunyi nyaring menandai keberangkatannya.

Perjalanan pertama, ketidakberuntungan pertama.

Kami sudah duduk nyaman di atas kendaraan umum alternatif lain yang akan mengantarkan kami ke setengah perjalanan menuju benda sial ini. Belum ada separuh jalan, kendaraan yang kami tumpangi mengalami bocor ban. Kami harus ditransfer ke kendaraan lain. Sebenarnya bukan hal besar, kami tidak diharuskan membayar lebih karena hal tersebut. Tapi supir dari kendaraan yang kemudian kami tumpangi, bukan tipe supir yang sebenarnya dibutuhkan di jalan neraka seperti jalan yang kami lewati. Jujur aku bimbang, resah, karena waktu terbuang begitu cepat, entah karena sang supir yang melajukan kendaraannya dengan lambat.

Perjalanan kedua, ketidakberuntungan kedua.

Tiba di kota yang menjadi persinggahan menuju kota tujuan kami, kami tidak menyiakan waktu yang ada. Langsung saja memesan tiket kereta dan berjalan menuju tempat untuk menunggu kedatangan kereta yang akan mengantarkan kami. Aku mencoba menghubungi seorang teman, seorang yang sangat hafal mengenai jalur perkeretaapian. Aku ingin bertanya, untuk memastikan kalau jalur yang kami jalani adalah jalur yang benar. Sayangnya, ponselnya tidak bias dihubungi. Dia dalam keadaan mati. Kami sudah berada dalam kereta saat mendengar informasi bahwa kereta tujuan kami yang akan mengantarkan kami ke daerah tujuan di kota tujuan kami hanya tinggal dua stasiun di belakang. Dengan sikap sok tahu, aku mengajak rekanku untuk memilih turun dan menunggu kereta tersebut. Tiga kereta berangkat dengan tujuan yang sama selama masa menunggu kami.

Berada dalam kereta, kami berdua sudah duduk nyaman. Saat itu, ponselku berbunyi. Sebuah pesan memberitahu kalau orang yang tahu soal jalur perkeretaapian sudah menghidupkan ponselnya kembali. Aku bertanya, dan dia bilang kalau jalur yang aku pilih akan memakan waktu satu jam lebih lama daripada jika aku transit di salah satu stasiun. Penyesalan itu hinggap. Andai kami tetap menaiki kereta sejak awal kami tumpangi, waktu tidak akan terbuang lagi dengan percuma. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kami tidak bisa memutar waktu untuk membuat kami kembali di kereta yang sudah kami tumpangi sebelumnya.

Tiba di stasiun tempat kami transit, kami mampir ke sebuah mini mart untuk sekedar membeli cemilan. Aku tertawa saat mendapat bonus pulsa dari sebuah makanan yang aku beli. Aneh.

Menunggu kereta yang akan mengantarkan kami ke stasiun tujuan akhir yang hanya satu stasiun benar-benar menguras waktu. Lebih dari setengah jam kami diam menanti sang kereta. Kami tiba di tempat tujuan kami, pukul dua belas kurang sekian menit. Janji awal, kami dan orang yang memegang benda sial ini akan berjumpa sekitar pukul sepuluh.

Perjalanan ketiga, ketidakberuntungan ketiga, keberuntungan pertama.

Menanti kedatangan orang yang ditugaskan untuk membawa barang sial ini, kami pergi ke seberang, ke sebuah pertokoan batu akik, menuju masjid yang atas di lantai paling atas pertokoan tersebut. Rekanku melaksanakan ibadah, aku menantinya di luar. Saat kami berdua duduk untuk sekedar istirahat, rekanku merasa ada yang tidak beres dengan sandal yang dia pakai. Memeriksa sandalnya, dia menyadari kalau nomor ukuran sandalanya itu menyusut tiga angka. Aku tidak mengerti perasaannya, bukan aku yang mengalaminya. Tapi jelas dia sangat emosi, meski emosinya ditunjukkan dalam hal lain. Dia lebih banyak diam, hilang konsentrasi karena sebagian banyak otaknya dia pakai untuk memikirkan sandalnya itu. Mungkin.

Penantian pertama, ketidakberuntungan keempat.

Kami berniat makan siang sambil menunggu orang yang sudah dijanjikan untuk menemui kami secepatnya, tapi tak ada menu yang menggugah selera kami. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke stasiun, sambil mencari tahu soal keberadaan orang itu. Dia mengatakan akan tiba dalam waktu setengah jam. Tak ada bangku yang bisa kami gunakan untuk sekedar mengistirahatkan kaki kami yang cukup pegal di sekitar stasiun, akhirnya kami memutuskan untuk pindah lokasi. Menaiki angkutan umum sebentar, kami tiba di sebuah tempat yang sedikit mengenyangkan perut kami. Bahkan kalau diingat lagi, kami tidak sepenuhnya kenyang saat itu. Aku mencoba menelepon orang yang seharusnya menemui kami dalam kurun waktu setengah jam, dia mengatakan hanya tinggal berbelok, mencari tempat untuk melakukannya. Kami cukup kesal karena waktu yang dia janjikan sudah jauh melebihi dari fakta.

Penantian kedua, haruskah aku jabarkan kalau rasa kesal itu dominan?

Makanan dan minuman yang kami pesan sudah berpindah ke perut kami semua, tapi manusia yang kami tidak kunjung datang. Kesal itu benar-benar makin mendominasi. Terlebih rasa bersalah kepada rekan yang sudah aku libatkan. Aku sudah membayangkan akan banyak waktu luang yang bisa kami pakai setelah traksaksi dilakukan. Tapi realita bahkan tidak mengijinkan kami untuk merasa lega saat itu. Aku kembali bertanya pada orang yang seharusnya bersama kami satu jam yang lalu. Dia mengatakan masih dalam perjalanan. Haruskah aku marah? Aku tidak salah mendengar saat dia mengatakan sebelumnya kalau dia sedang mencari tempat parkir.

Penantian kedua, emosi dan sesal membuncah.

Pertemuan kami, aku melupakan rasa kesalku. Ingin rasanya transaksi cepat selesai. Bertanya pada rekanku untuk menentukan pilihan antara dua. Dan setelah sekian waktu, akhirnya benda ini yang aku bawa pulang. Transaksi selesai, kami langsung meninggalkan tempat makan yang kami gunakan untuk bertransaksi, menuju tempat yang akan mengantarkan kami ke rumah. Menuju stasiun tempat kami tiba sebelumnya, kami putuskan untuk menggunakan busway. Tidak menunggu lama, busway yang kami tunggu tiba. Kami duduk nyaman di atas busway yang berpenumpang hanya sedikit. Hanya satu shelter, kami turun untuk berpindah busway. Lagi-lagi kami mendapati busway yang kami tumpangi dalam keadaan lengang. Sangat nyaman,

Perjalananan keempat, keberuntungan kedua.

Penasaran, sebelum kami masuk ke dalam stasiun, kami kembali ke pertokoan yang sebelumnya kami kunjungi. Pergi ke masjid yang ada di lantai atas. Aku duduk menunggu selagi temanku mencoba mencari sandal miliknya. Tapi takdir mengharuskan dia untuk kehilangan sandalnya itu.

Kami melakukan perjalanan seperti saat kami berangkat. Menaiki kereta untuk satu stasiun. penantian kami tidak terlalu lama. Kereta tiba dan kami naik. Keretanya cukup lengang. Kami bisa duduk dan bernafas lega, meski hanya sampai stasiun tempat transit kami. Sejenak.

Aku sudah menduga, kami mungkin akan sangat sulit bahkan untuk bernafas di kereta yang akan kami tumpangi menuju kota yang menjadi kota persinggahan kami. Manusia yang ada di peron yang menanti kereta yang sama dengan kami begitu banyak. Tapi kami ingin segera sampai, kami tidak ingin membuang waktu, kami cukup lapar dan berniat makan sebelum kami pulang nanti. Kami menaiki kereta yang tidak terlalu lama kami tunggu. Dengan keadaan penuh sesak, kami bertahan di dalam kereta tersebut. Lama waktu berjalan, banyak stasiun kami lewati. Sebuah kalimat dari rekanku membuat aku menyadari sesuatu.

Handphone-ku panas, gara-gara mencari sinyal,” dia berkata.

Handphone-ku juga pasti panas, dicharge menggunakan powerbank,” aku menimpali.

Setelah berkata seperrti itu, aku merogoh tasku untuk mengecek jumlah baterai yang sudah terisi ke dalam ponsel milikku. Tapi saat aku menarik powerbank yang paling cepat tertangkap jari-jariku, aku menyadari kalau ponselku tidak terhubung dengan powerbank tersebut. Sedikit panik, aku mencoba mengaduk isi tasku, tapi aku tidak menemukan objek yang aku cari. Keadaan di dalam kereta sudah cukup lengang, aku kemudian mencari dengan dibantu kedua mataku, tapi ponsel itu raib entah kemana.

Apa yang aku pikirkan saat itu? Entah. Pikiranku memang bercabang, dan rasa syok mungkin yang membuat pikiranku yang bukan tentang ponsel itu yang mendominasi. Aku bahkan tidak bisa menunjukkan emosi yang seharusnya. Aku bahkan tidak bisa memikirkan emosi yang benar.

Setengah perjalanan kelima, ketidakberuntungan kelima.

Aku pasrah sepasrahnya walaupun tetap tidak bisa menutup rasa kesal. Aku masih bisa bercanda pada rekanku, mengatakan kalau aku lebih rugi dari dia. Aku bahkan sempat bercerita pada teman dekatku kalau ponsel kesayanganku raib entah kemana. Dengan perasaan ringan meski aku menceritakannya dengan nada dibuat-buat. Terlalu kaget membuat kinerja otakku tidak pernah berjalan dengan baik.

Tiba di stasiun akhir, aku membuat laporan kehilangan. Sadar kalau ponsel milikku itu dicuri dan bukan jatuh, aku tetap membuat laporan. Tak aka nada orang yang datang tiba-tiba untuk mengembalikan ponsel milikku. Otak gilaku membuat satu kesimpulan, untuk kenang-kenangan. Saat mencari rekanku, ponsel satu lagi yang aku miliki terjatuh, beruntung semua fungsi ponsel itu tidak ada yang rusak. Selesai membuat laporan dan mendapatkan surat keterangan kehilangan, kami segera keluar dari stasiun untuk mencari makan.

Aku mengecek sisa ponselku, layarnya tiba-tiba memutih. Aku bingung. Aku mencoba untuk me-restart ponselku, dan semuanya kembali baik. Aku kembali merasa lega. Tapi kemudian ponselku kembali menunjukkan gejala yang sama. Pikiranku tak bisa lagi diarahkan pada hal positif kala itu. Banyak bayangan negatif menghampiriku dan membuatku merasa sangat suram.

Nafsu makanku benar-benar menghilang saat itu. Aku meminta rekanku untuk makan sendiri, aku tidak bisa menyuapkan makanan saat itu, karena perasaan negatif itu terlalu dominan. Baru kami duduk, baru saja temanku memesan makanan, bahkan penjual makanan itu belum sempat membuatkan makanan pesanan temanku, saat itu kereta yang akan kami tumpangi melewati jalan raya.

Aku meminta rekanku untuk mengecek jam, masih ada sekitar dua puluh menit dari jadwal keberanngkatan yang tercetak pada tiket yang sudah kami beli. Tapi berkali-kali aku menaiki kereta tersebut, tidak pernah sekalipun kereta tersebut tiba lebih cepat dari yang seharusnya. Rasa panik hinggap. Apa mungkin kereta akan langsung berangkat? Seperti yang terjadi tadi pagi. Tidak mau mengambil resiko, aku meminta temanku untuk membatalkan pesanannya. Lebih baik kami segera pergi ke stasiun tempat kereta tersebut berada.

Rasa panik membuatku tidak bisa berpikir banyak. Mengira rekanku ada di belakangku, aku langsung berlari menyebrangi jalanan yang saat itu cukup mudah dilewati karena kendaraan terhenti saat kereta lewat. Berada di seberang jalan, aku kemudian menyadari kalau rekanku tidak berada di dekatku. Aku mencoba melihat ke seberang jalan, tapi mataku tidak bisa menangkap sosok rekanku itu. Panik terlalu mendominasiku, aku berlari menuju stasiun untuk sekedar memastikan kalau kereta tidak akan berangkat secepat itu.

Belum setengah jalan menuju stasiun, otakku mengatakan kalau aku tidak bisa kesana tanpa rekanku. Aku kembali ke jalan raya, mencari dan berteriak seperti orang gila. Tapi sosoknya sama sekali tidak bisa terlihat kedua mataku. Aku mengumpat, kenapa dia tidak bisa mengirimkan pesan padaku padahal aku sudah meminjam ponselnya. Sialnya tidak ada nomor miliknya di kontak ponselnya. Aku kembali menuju stasiun sambil mencoba menelepon rumah rekanku untuk mendapatkan nomor ponsel rekanku. Aku sangat sadar aku pasti akan membuat ibu rekanku panik juga karena aku terlalu jujur. Mengatakan pada ibunya kalau kami terpisah dan aku tidak bisa menemukan anaknya. Tapi rasa panikku lebih dominan daripada memikirkan perasaan ibu rekanku. Aku harus segera menemukan rekanku sebelum otakku benar-benar suram dan aku tidak bisa berpikir sama sekali. Aku mengatakan pada petugas pengecek tiket untuk tidak membiarkan kereta berjalan sebelum aku menemukan temanku.

Aku kembali menuju jalan raya, mencari rekanku setelah mendapatkan nomor ponsel yang benar. Aku sangat bersyukur saat sambungan teleponku terhubung. Aku bersyukur saat mendengar suara rekanku. Pikiran buruk itu berkurang meski hanya sedikit.

Setelah pembicaraan yang didominasi dengan rasa panik, aku bisa melihat sosok temanku. Tapi bahkan kedua ponselku yang rusak tidak bisa membuatku sesesak itu. Kedua ponselku tidak bisa membuatku menangis. Kehilangan rekanku sanggup melakukannya. Seperti cerita picisan murahan, aku menangisinya. Salah satu cabang pikiranku mentertawakan apa yang aku lakukan.

Perjalanan kelima, ketidakberuntungan keenam.

Tak banyak yang aku ingat saat berada di dalam kereta. Aku menghabiskan banyak waktuku untuk mengistirahatkan mataku. Hanya samar mendengar suara-suara karena aku tidak pernah bisa tidur nyenyak jika dalam perjalanan.

Tiba di kota tercinta, tiba di stasiun terakhir, aku merasa benar-benar lega. Setidaknya, banyak pikiran buruk yang diciptakan kepalaku tidak menjadi nyata. Perjalanan menuju rumah, aku mendapatkan satu hadiah lagi. Meski harus kehilangan dua ponselku (satu rusak., tapi untuk sementara waktu aku bisa mengatakan kalau aku kehilangan), setidaknya, rekan yang sudah sekian tahun menjadi temanku, aku bisa tahu dimana kediamannya sekarang.

Semua kisah, semua ketidakberuntungan yang aku dapatkan hari itu, aku sadar semua terjadi buah dari kesalahan yang aku buat. Percuma terbelenggu dalam rasa penyesalan. Hal yang sudah terjadi jelas tak bisa diputar balik untuk diperbaiki. Bersyukur pada Allah SWT yang masih menyelamatkan nyawa ini. Bersyukur pada karunia-Nya, sehingga aku masih bisa menghitung daftar tambahan dari kesalahan yang sudah aku buat. Bersyukur setidaknya hanya aku masih bisa mengucapkan banyak istigfar setelah semua yang terjadi. Bersyukur, salah satu cabang pikiranku masih mengingat-Nya.

Terima kasih…

Tulisan ini selesai pada 10:26 AM waktu yang tertera pada benda sial ini.

Mungkin tidak baik jika aku menyebutnya benda sial, benda ini butuh pengorbanan sangat banyak untuk mendapatkannya. Tapi aku enggan memberi sebuah nama pada benda ini. Aku tidak akan memberinya nama, tidak seperti banyak benda yang lain.

Sukabumi, kamar tercinta, 13 April 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s