[Fiksi ZZ] Jangan Datang Jika Kau Berniat Pergi

Standard

Sebuah fiksi yang tercipta saat mendengarkan lagu Jamal Mirdad…

 

Cast : Zuu dan Zen

..

Andai kita tidak berjumpa, aku tidak akan pernah merasakan hal ini. Kini hanya rasa sesal yang memuncak. Aku menyesal karena aku mengenalmu.

.

.

“Berapa lama lagi?”

“Aku tidak tahu. Dan tidak pernah ingin tahu. Tubuhku bisa menebaknya, tapi aku ingin tidak peduli. Biarkan saja nanti aku pergi tanpa pamit.”

Zuu menatap Zen yang mengacuhkan tatapannya. Zen memang menjawab pertanyaan Zuu, tapi justru Zuu tidak suka dengan jawaban yang diberikan oleh Zen. Perpisahan sepertinya tidak berarti apa-apa bagi Zen. Zuu tahu kalau Zen memang pribadi yang dingin, tapi tetap saja dia tidak suka. Sudah banyak air mata yang Zuu keluarkan karena Zen, bahkan akan lebih banyak lagi nanti. Tapi Zen sama sekali tidak pernah memberikan kata-kata yang bisa membuat Zuu merasa lebih baik. Zen memilih untuk tetap dingin. Zen membiarkan Zuu berwarna abu-abu jika mengenai dirinya.

“Zen, meski kau tidak berniat untuk pamit, setidaknya berikan aku petunjuk. Akan jauh lebih menyakitkan ditinggalkan tanpa persiapan.”

“Tidak akan ada bedanya. Kau pasti akan meraung setelah aku pergi, siap ataupun tidak.”

“Kau memang jahat.”

“Ya.”

Zuu tidak lagi bicara. Dia merasa percuma bicara pada Zen. Selain sakit, Zuu akan merasa kesal dan sebal pada Zen yang acuh itu.

.

.

Percakapan singkat kemarin, Zuu masih mengingatnya dengan jelas. Suara yang dingin itu, terdengar begitu jelas lewat ingatan Zuu. Zuu tidak meraung, Zuu tidak marah karena ditinggalkan tanpa pesan. Zuu hanya merasa hampa.

Berkali-kali Zuu berbalik arah ketika berjalan, berharap Zen berada di belakangnya seperti biasa. Berkali-kali Zuu menghentikan langkahnya, menunggu seseorang menubruknya dari belakang, tapi tidak akan pernah terjadi lagi. Jiwa Zen sudah terbang bersama angin, Zuu menyaksikannya dengan teramat jelas. Tapi harapan itu, satu-satunya penghibur bagi Zuu.

Zen sangat jahat pada Zuu. Dia benar-benar pergi tanpa memberikan kesempatan pada Zuu untuk bersiap, tanpa memberikan waktu pada Zuu untuk mengucapkan selamat tinggal. Padahal Zen tahu dengan jelas kalau Zuu lebih menyukai mengucapkan perpisahan bukan ditinggalkan tanpa kata.

Tapi meski begitu, Zuu tahu kalau dia harus sadar diri, Zen tidak akan pernah ada lagi bersamanya. Zen tidak akan pernah bicara sangat menyebalkan padanya. Zen tidak akan pernah berada di belakang, di samping ataupun di depannya. Zen sudah pergi. Menghilang… dan dia tidak akan pernah kembali.

“Seharusnya kita tidak dipertemukan saja jika akhirnya kita harus berpisah dengan cara seperti ini.” Zuu mengucap pada dirinya sendiri.

Dia berjalan sendiri. Dia akan selalu sendiri mulai sekarang.

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s