[CS_2] Heartache

Standard

Sakit? Ya.

Sedih? Ya.

Menyesal? Tidak.

Menyakitkan memang. Tapi Chii memang seperti itu. Dia lebih memilih untuk menikmati rasa sakit itu sendiri. Karena rasa sakit itu menjadi tanda bagi Chii bahwa dia masih hidup. Dia tak mau menyesal. Rasa sakit itu adalah akibat perbuatannya sendiri. Jadi dia harus menerima buah rasa apapun yang terjadi. Dan kebetulan, rasa sakit itu yang ternyata dominan.

Tak apa.

Hanya dua kata itu yang terus diteriakkan Chii di dalam kepalanya. Berusaha membohongi dirinya sendiri. Padahal jelas dadanya tak kuat menahan rasa sesak yang bukan akibat kurangnya suplay oksigen ke tubuhnya.

Tak apa.

Chii memilih membohongi dirinya sendiri karena air mata yang biasanya menjadi obat penenang tak pernah lagi keluar dari kedua matanya. Dia sudah lupa bagaimana caranya menangis dengan benar. Chii bisa dengan mudah menangisi kesedihan orang lain. Tapi tidak dengan kesedihan miliknya sendiri. Semuanya tertimbun lama.. terlalu lama.

Tak apa.

Seharusnya memang tak apa. Sepi adalah kawan paling setia bagi Chii. Seharusnya dia terbiasa. Karena sepi adalah magnet bagi sakit dan sesak non-fisik yang paling kuat.

Tak apa.

Entah sampai kapan Chii akan meneriakkan kata itu di kepalanya. Mungkin, hingga eksistensinya menghilang.

Tak apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s