[CDPROJECT] Pindahan

Standard

Cerita seputar keluarga Kim dan Cha dan para tetangga…

Proyek Chii dan Dee..

Tempat pajang disini dan mungkin di kediaman Dee

.

Hari pertama keluarga Kim menginjakkan kaki mereka di lingkungan baru yang kemudian membuahkan cerita yang entah kapan dibuat ^o^ Karakter, waktu, sudut pandang dan yang lain tidak akan sama dan tersusun. Semua tergantung ide cerita yang muncul.

.

Agak berantakan. Ternyata saya cukup malas untuk membuatnya lebih enak dibaca.

Karakter :

Keluarga Kim : Kim Dojin(Wonbin) – Lee Young Ae – Kim Boram (fiktif)

Keluarga Cha : Cha Seungwon – Song Yoon Ah – Cha Iseul (fiktif)

KangJa = Kang Dong Won Wangja = Pangeran Kang Dong Won, lebay tapi begitulah Boram dan Iseul memanggil Dongwon.

RUMAH BARU, TETANGGA BARU, PANGERAN BARU, MUSUH BARU

-Chii-

Gadis cilik itu baru tiga tahun melihat dunia, dia tidak bisa mengetahui semua dengan jelas. Tapi dia tahu dengan pasti, pemuda yang berjalan melewatinya barusan adalah manusia yang begitu indah.

Gadis cilik itu kemudian melangkahkan kakinya, berjalan mengikuti pemuda yang memikat matanya. Dia tidak pamit pada kedua orang tuanya yang sibuk menyuruh ini itu pada petugas yang mengangkut barang-barang mereka.

Merasa jarak mereka menjauh meski dia melangkahkan jumlah langkah yang sama dengan si pemuda, gadis cilik itu kemudia berlari. Dia berhentikan melarikan kakinya setelah berjarak sekitar tiga langkah di belakang sang pemuda. Gadis cilik itu kembali berjalan dua kali lebih banyak dari si pemuda.

Si pemuda menyadari kalau dia diikuti. Dia berbalik dan mendapatkan sebuah sambutan senyuman dari gadis cilik itu. Senyum sambil memperlihatkan gigi yang belum tumbuh dengan sempurna, beberapa sudah hilang karena tergerus glukosa yang dikonsumsi si gadis cilik dengan berlebihan.

“Tam.pan.” Ucap si gadis cilik. Usianya baru tiga tahun. tapi dia mengetahui dengan jelas makna tampan dan kategori tampan itu seperti apa. Dia sudah hidup selama tiga tahun dengan laki-laki yang selalu dipanggil tampan oleh orang-orang di sekitarnya.

Si pemuda hanya melongo mendengar komentar bocah di depannya. Dia tidak terlalu heran sebenarnya. Ada bocah lain yang menganggapnya begitu. Tapi berjumpa satu lagi bocah yang seperti itu rasanya tidak terlalu menyenangkan. Dia bisa menebak bagaimana jika dua bocah itu bertemu.

Si bocah cilik itu melangkah dua langkah mendekat pada si pemuda tanpa disadari sang pemuda. Senyum gigi yang tak utuh masih saja dia perlihatkan. Dia melangkahkan kakinya lagi dan hendak meraih pakaian sang pemuda.

“JANGAN SENTUH KANGJA-KU!”

Sebuah teriakan menghentikan gerakan si gadis cilik. Dia menoleh pada sumber suara dan melihat orang lain yang mungkin seumuran dengannya.

Tak banyak yang terjadi setelahnya. Bocah yang lain menghampiri, memagar dirinya di depan pemuda yang dia panggil KangJa. Bocah yang pertama tak rela, dia menarik baju bocah kedua dan keduanya berakhir dengan saling tarik baju, tarik rambut dan menangis.

“Iseul-ah kau kenapa?”

“Boram, apa yang kau lakukan?”

“Dongwon-ah, ada apa ini?”

“Boram, ayo lepaskan tanganmu.”

“Kau juga Iseul.”

“HUWEEEE!!~”

.

.

“Kami minta maaf.” Young Ae perempuan berusia dua puluh ennam tahun itu membungkuk meminta maaf. Putrinya sudah berada di pelukan sang suami.

“Tidak. Kami yang seharusnya minta maaf.” Yoon Ah membalas.

Kedua ibu muda itu terlihat canggung.

Dua bocah yang bernama Boram dan Iseul itu saling bertukar tatapan tajam. Aura permusuhan jelas terlihat dari keduanya.

“Ah iya. Saya tetangga baru. Hari ini saya baru datang. Nanti saya akan datang ke rumah untuk sekedar memberi salam resmi.” Ucap Young Ae kembali memulai pembicaraan.

“Oh iya. Kalau begitu, saya akan membawa putri saya masuk. sekali lagi saya minta maaf.” Yoon Ah membalas.

Young Ae kemudian berbalik setelah Yoon Ah menghilang di balik pintu pagar rumahnya. Rumah Yoon Ah terhalang satu rumah dari rumah baru Young Ae. “Kau nakal Kim Boram. Kita baru pindah dan kau sudah berkelahi. Anak baik tidak boleh seperti itu.” Ucap Young Ae.

Boram cemberut menatap wajah ibunya. Dia kemudian menenggelamkan kepalanya di dada sang ayah.

Eomma akan marah padamu.” Ucap Young Ae lagi.

Masih dengan cemberut, Boram kembali menatap ibunya. “Boram minta maaf. Boram salah.” Ucapnya tidak tulus.

Young Ae menghampiri putrinya itu. Dia mengusap kepala Boram dan tersenyum. “Anak baik. Nanti kamu harus meminta maaf pada Iseul. Kalian seumuran, harusnya kalian jadi teman baik.” Ucapnya.

“Iya.” Jawab Boram pendek tanpa berniat melakukan apa yang disuruh ibunya.

“Ayo kita pergi.” Ajak Dojin, kepala keluarga Kim.

Young Ae mengangguk dan berjalan di samping Dojin menuju rumah baru mereka.

.

.

Advertisements

5 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s