[4 Season Series] Winter’s Night Uncut Ver.

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Choi Junhee [Singer]

*) Kim Myungsoo [Infinite]

Genre : General, AU, Friendship, Romance

Length : >5600 words

Disclaimer : I just own the storyline

a/n : Versi uncut dari Winter’s Night. Terima kasih untuk yang menyempatkan baca dari musim semi yang lalu.

HAPPY READING ^^

JUNIE-L’S STORY : WINTER’S NIGHT

Winter's Night

“Kau benar-benar tidak sabar untuk pulang ya? Sampai tidak lelah terus tersenyum dari tadi.” Taeri menggoda Junhee yang mengepak perlengkapannya untuk pulang dengan wajah ceria.

Junhee tidak menjawab. Dia memang tidak sabar. Awalnya dia tidak berniat untuk pulang di liburan musim dingin sekarang karena dia sudah pulang saat ayahnya sakit dua bulan yang lalu. Tapi Junhee memutuskan pulang karena ada orang lain selain keluarganya yang ingin dia temui sebelum tahun berganti.

“Apa ayahmu akan menjemputmu ke bandara nanti?” Taeri bertanya.

“Tidak. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.” Jawab Junhee.

“Kalau Myungsoo oppa?”

“Tidak ada alasan untuk dia menjemputku. Dan lagi, dia tidak tahu kalau aku akan pulang besok.” Jawab Junhee.

“Loh, kenapa tidak kau beri tahu? Dia mungkin senang kalau tahu kau pulang. Dan dia lalu mengajakmu berjumpa.” Goda Taeri.

Junhee tidak menjawab.

“Bilang padanya kau akan pulang besok, sekalian minta jemput. dan aku bisa menumpang. Seunghyun oppa tidak bisa menjemputku besok. Tidak masalah aku diabaikan kalian berdua yang penting aku bisa mendapatkan tumpangan gratis.” Ucap Taeri.

“Setahuku Myungsoo oppa hanya punya motor. Dan aku memang tidak berniat memberitahu dia karena aku ingin istirahat setelah pulang. Aku akan memberitahu dia kalau aku sudah puas dengan istirahatku.” Terang Junhee. “Kita naik taksi saja.” Lanjutnya.

Taeri hanya mendesah.

.

Myungsoo menyambar ponselnya begitu dia selesai mandi, hanya mengenakan celana pendek. Dia membuka aplikasi chat yang dia gunakan untuk berkomunikasi dengan Junhee. Belum ada balasan dari pesan terakhir yang dia kirim. Pesannya pun belum dibaca oleh Junhee.

‘Junhee-ya.. kau sibuk?’

Senyum tak lepas dari wajah Myungsoo saat dia mengetikkan pesan di ponselnya. Dua bulan sejak terakhir dia bertemu dengan Junhee di taman. Dia mengajak Junhee bertemu lagi sebelum perempuan itu kembali ke Jepang tapi gagal.

Ada ujian mendadak dari dosen Junhee dan Junhee mempercepat waktu menjenguk ayahnya.

Tapi sejak saat itu hubungan mereka lebih dekat dari sebelumnya. Myungsoo tidak pernah memberi tahu Junhee kalau dia sudah mendengar pesan cintanya, dan Junhee tidak pernah membahas hal itu. Myungsoo berusaha untuk tetap berkomunikasi dengan Junhee agar dia tidak kehilangan kesempatan yang dia punya. Waktu memberi tahu Myungsoo kalau dia sudah benar-benar melupakan Chaeri yang dia suka cukup lama. Untuknya saat ini adalah Junhee, dia menyukai gadis itu.

Myungsoo belum tahu apakah Junhee akan pulang saat liburan musim dingin atau tidak. Junhee sempat bilang padanya kalau dia tidak berniat pulang. Alangkah baiknya jika Junhee pulang.

Myungsoo ingin mengucapkan perasaannya langsung pada Junhee. Mengikat gadis itu dengan status yang jelas. Dan Myungsoo bisa lebih mudah mengucap semua rasa yang dia punya. Sekarang dia hanya bisa menahan diri.

Waktu terus berlalu. Myungsoo sudah mengenakan pakaiannya. Dia sudah memainkan lima kali balapan mobil di ponselnya, tapi tak juga mendapat balasan dari Junhee. Dia mengecek aplikasi chat, pesanannya masih belum juga dibaca oleh Junhee. Padahal ini bukan kali pertama, tapi Myungsoo merasa sedikit tidak sabar.

Dia menunggu. Dan menunggu. Sampai kemudian Myungsoo tertidur.

.

.

“Sudah seminggu kau pulang, tidak berniat pergi keluar?” Ibu Junhee bertanya pada Junhee yang sedang menggelung rambutnya ke atas kemudian mengikatnya.

Junhee baru keluar dari kamarnya, dia menghampiri ibunya di dapur. Berniat membantu sang ibu memasak untuk sarapan. “Aku akan pergi nanti siang. Cho Ah eonni memintaku menemaninya belanja.” Jawab Junhee.

“Akhirnya… eomma pikir kamu akan selamanya di dalam rumah selama kamu pulang. Eomma hampir merasa bosan melihatmu setiap hari.”

Junhee hanya mendelik menanggapi candaan ibunya.

Tak ada yang istimewa di pagi hari Junhee. Siangnya Junhee berpamitan pada ibunya, dia sudah janjian dengan Cho Ah di halte bus dekat salah satu pusat perbelanjaan.

“Junhee-ya!!”

Junhee baru turun dari bis dan langsung mendengar suara khas kakak sepupunya memanggilnya. Mereka berpelukan sebelum kemudian berjalan bersama menuju tempat yang ingin didatangani oleh Cho Ah.

“Aku sebenarnya tidak mengerti, eonni berniat membeli hadiah ulang tahun atau bukan. Tahun kemarin eonni membelikan Jaejin oppa gitar tapi gitarnya dua. Berpasangan dengan milikmu. Sekarang eonni mau membelikan dia sepatu tapi juga eonni beli satu yang sama persis untukmu.” Komentar Junhee ketika Cho Ah memilah beberapa sepatu di toko olahraga. Jaejin adalah pacar Cho Ah, dia beruntung mendapatkan pacar yang usianya setahun lebih muda darinya. Hari ini Junhee menemani Cho Ah membeli hadiah ulang tahun Jaejin lima hari ke depan.

Cho Ah tetap dengan kegiatan memilahnya. “Kalau saja dia tidak selalu melupakan ulang tahunku, aku tidak akan begini. Dia selalu saja terlambat memberikan aku hadiah di ulang tahunku. Aku jadi tidak ingin memberinya hadiah tapi merasa itu sebuah kewajiban untuk kulakukan.” Jawab Cho Ah tanpa berpaling. “Ini bagaimana?” Dia meminta pendapat Junhee sambil memegang sebuah sepatu putih bermotif garis hijau.

Junhee menggeleng dan mengambil sepatu yang sama namun warna motifnya berwarna merah.

Cho Ah terlihat tidak suka dengan yang disodorkan Junhee. Dia mencoba mencari sepatu dengan model lain.

Junhee hanya bisa mendesah. Agak sulit menemukan sepatu yang Cho Ah suka dan Cho Ah pikir Jaejin juga akan suka.

.

.

Myungsoo merasa gelisah. Dia belum berkomunikasi lagi dengan Junhee satu minggu terakhir. Junhee tidak merespon pesanannya, bahkan mengabaikan panggilan darinya. Myungsoo merasa ada yang kurang di harinya.

Dia mau bertanya pada Minhwan tapi segan juga enggan. Dia tidak ingin orang lain tahu banyak tentang apa yang dirasakannya saat ini. Setidaknya sampai dia memiliki status yang lebih dari seorang teman dengan Junhee.

Menghilangkan rasa tidak jelas yang ada di dirinya, Myungsoo menyimpan ponselnya di saku dan mengambil tas berisi kamera miliknya. Mencoba menemukan objek foto yang bisa menguras konsentrasinya.

Myungsoo tidak pergi jauh, dia pergi ke taman yang letaknya tak jauh dari SMA tempat dia sekolah dulu. Langit sore tidak terlalu cerah. Cuaca musim dingin makin terasa dingin. Langit sudah memutih, dan Myungsoo berharap ada salju turun sore itu. Rasanya dia ingin memotret hujan salju.

Dia mengabaikan dinginnya udara dan duduk di sebuah bangku kayu, matanya berkeliling mencoba mencari objek lain sambil berharap ada salju turun.

“… baik. Aku akan melakukan hal yang lain.”

Mata Myungsoo refleks mencari sumber suara dari seseorang yang bicara di sekitarnya. Telinganya begitu merasa familiar dengan suara itu. Myungsoo memutar kepala juga kakinya dan dia menemukan objek yang dia cari ketika tubuhnya sudah berdiri menghadap bangku yang tadi dia duduki.

Dia ada di sana. Gadis yang meresahkan Myungsoo beberapa hari terakhir sedang berjalan sambil melingkarkan tangannya di lengan seseorang.

Dukk…

“Aw….” Myungsoo lupa kalau di depannya ada sebuah bangku. Dia bergerak maju dan betisnya langsung mengenai dudukan bangku itu. Dia mengelus tempat betisnya tadi terantuk pada bangku.

“Junhee-ya!” Seru Myungsoo sambil melambaikan tangannya, mencari perhatian perempuan yang sedang dilihatnya.

Junhee menoleh, begitu pun orang yang berjalan bersamanya. “Myungsoo oppa.” Dia membalas panggilan Myungsoo. Dia dan rekannya saling menatap sebelum mereka berdua berjalan menghampiri Myungsoo.

“Kau pulang? Kenapa tidak pernah bilang? Kenapa tidak membalas pesanku? Kau marah padaku?” Myungsoo tidak sadar dia langsung memberondong Junhee dengan banyak pertanyaan. Dia kemudian merasa kalau dia tidak keren. “Oh, maaf.” Ucapnya kemudian.

“Aku pulang minggu lalu oppa. Tapi karena aku ingin istirahat, aku tidak memberitahu siapa-siapa soal kepulanganku.” Terang Junhee. “Ah iya, eonni kenalkan dia Myungsoo oppa, temannya Minhwan oppa.” Ucap Junhee sambil menoleh pada orang yang berdiri di sampingnya. “Dia Cho Ah eonni, sepupuku.” Lanjutnnya.

Mereka bertiga kemudian duduk di bangku kayu taman. Berbincang sedikit tentang apa saja yang terpikirkan oleh ketiganya. Junhee selesai menemani Cho Ah belanja. Cho Ah baru saja menemui rumah temannya yang lokasinya tidak jauh, makanya mereka bisa ada di taman yang letaknya dua halte bis dari pusat perbelanjaan. Lama kemudian Junhee dan Cho Ah pamit untuk pulang. Junhee sudah bilang pada ibunya dia akan pulang sebelum makan malam.

“Aku akan mengantarmu. Rumahku tak jauh dari sini, kau tunggu sebentar di sini. Aku akan ambil motorku sebentar. Tidak lama.” Ucap Myungsoo saat mengetahui kalau jalan pulang Junhee dan Cho Ah berbeda.

Myungsoo langsung pergi begitu dia mendapatkan persetujuan Junhee. Dia setengah berlari berusaha secepatnya sampai ke rumahnya. Saat dia berbalik untuk sekedar meyakinkan diri bahwa Junhee tidak pergi meninggalkannya, dia melihat Cho Ah dan Junhee sedang berbincang dengan Cho Ah terlihat terkikik dan Junhee memukul pundak saudara sepupunya itu.

.

.

“Kau menyukai pemuda itu?” Tanya Cho Ah pada Junhee ketika Myungsoo sudah di luar jarak dengar mereka berdua.

“Aku dulu memang menyukai dia, tapi sekarang aku tidak tahu. Aku menyukai dia saat dia punya pacar, jadi aku merasa aku tidak boleh suka padanya. Sejak tahu hal itu aku berusaha meredam rasa sukaku. Sekarang dia single sih, tapi entahlah. Aku rasanya menyukai hubungan kami yang sekarang, kami dekat dan tidak ada yang merasa tersakiti.” Terang Junhee.

Cho Ah menatap Junhee menggoda. “Tapi aku lihat dia punya perasaan lebih padamu.” Ucapnya.

“Masa sih?” Junhee merasa pipinya menghangat.

“Aku serius. Kalau dia bilang suka padamu, apa kau akan menerima dia?” Cho Ah bertanya lagi.

“Ah eonni, sudah. Aku tidak mau membahasnya.” Ucap Junhee sambil memukul pelan pundak kakak sepupunya.

Cho Ah hanya terkikik melihat Junhee yang wajahnya tak hanya merona tapi sudah memerah. “Aku akan pulang sekarang. Kau tidak apa kan ditinggal sendiri? Jangan terlalu membayangkan yang tidak-tidak. Nanti kalau salju turun, saljunya akan langsung meleleh begitu kena pipimu.” Ucapnya.

Junhee hanya diam dengan wajah makin memerah. “Pergi sana!” Ucapnya kemudian sambil mendorong tubuh Cho Ah menjauh.

Cho Ah pergi sambil terkikik. “Ceritakan padaku lengkapnya nanti..!” Ucapnya tanpa berbalik dan meninggalkan Junhee sendiri.

Junhee duduk lagi di bangku, menunggu Myungsoo kembali. Dia berusaha tidak memikirkan Myungsoo tapi ucapan Cho Ah yang mengatakan kalau Myungsoo mungkin menyukainya membuat pipi Junhee lagi-lagi memanas. Tapi kemudian dia menggeleng, dia tidak ingin berpikir yang aneh. Dia sedang tidak ingin merasa patah hati seperti dulu. Tidak saat ini, saat dia sudah merasa senang dengan hubungan dia dan Myungsoo yang cukup dekat, meski hanya sebatas teman. Tapi senyuman tak bisa menghilang dari bibirnya.

Tak lama kemudian Myungsoo datang dengan motornya dan memanggil Junhee dari arah jalan.

Junhee menghampiri Myungsoo dan mengambil helm yang disodorkan oleh Myungsoo. Mereka tak banyak bicara selama perjalanan pulang. Dan hanya salam perpisahan yang diucap keduanya sebelum Junhee masuk ke dalam rumah.

“Nanti tolong balas pesanku.” Kata Myungsoo nyaring sebelum Junhee menghilang di balik pintu.

Junhee memberi anggukan sebagai jawaban dan masuk ke dalam rumahnya.

.

.

Myungsoo berguling di atas ranjangnya. Dia berguling dan berguling. Reaksi Junhee saat bertemu lagi dengannya tadi tidak sesuai dengan harapannya. Dia berharap kalau Junhee akan memperlihatkan wajah super senang. Tapi Junhee terlihat biasa saja.

Dia bingung apakah Junhee sudah tidak lagi menyukai dia. Dia sama sekali tidak bisa menebak. Dulu memang dia tidak tahu perasaan Junhee karena dia sibuk menyukai perempuan lain, jadi dia mengabaikannya. Tapi sekarang, Myungsoo menyukai Junhee jadi dia jelas ingin tahu perasaannya masih terbalas atau tidak.

Myungsoo berhenti berguling. Dia kemudian mengambil ponselnya, membuka aplikasi chat dan mengetikkan beberapa kata.

Besok kamu ada acara? Kalau tidak oppa ingin mengajakmu ke suatu tempat.

Myungsoo memegang ponselnya dengan tangan kiri, matanya terus menatap ke layar ponselnya. Jari tangan kanannya berada di bibir Myungsoo, dia terlihat cemas. Menunggu balasan dari Junhee.

Suara khas notifikasi aplikasi chat membuat Myungsoo sedikit terlonjak.

“Aishh….” Keluh Myungsoo saat melihat kalau yang dia terima bukan balasan dari Junhee tapi pesan dari kenalannya, Lee Sungyeol. Hanya basa-basi, meminjam DVD film yang dia beli seminggu yang lalu.

Ada notifikasi lain dan Myungsoo tersenyum begitu ada lima pesan dari Junhee.

Besok? Aku tidak ada kegiatan sih

Memangnya oppa mau mengajakku kemana?

Aku sih tidak masalah

Asal jangan ke tempat yang jauh

Aku harus makan malam di rumah

Myungsoo buru-buru mengetikkan balasan.

Tidak jauh, oke besok jam tiga oppa jemput kamu.

Hanya beberapa detik kemudian Myungsoo mendapatkan balasan ‘oke’ dari Junhee.

Kemudian Myungsoo diam. Dia sama sekali tidak punya gambaran mau mengajak Junhee kemana. Dia hanya berpikir untuk menemui Junhee, secepatnya. Tapi dia sama sekali tidak punya rencana. “Aah, bodoh.” Umpat Myungsoo pada dirinya sendiri.

Myungsoo memilih tidur, berharap dia bisa bermimpi mengunjungi satu tempat di mimpinya yang bisa jadi referensi untuknya besok.

.

.

Semalam Myungsoo mimpi dikejar anjing tetangga, kemudian anjing itu berubah jadi raksasa berwarna hijau yang berlendir. Lalu dia bermimpi kalau dia bangun pukul empat sore dan ponsel Junhee tidak bisa dihubungi setelah Myungsoo mendapatkan pesan kalau Junhee sangat tidak suka dengan orang yang ingkar janji. Myungsoo kemudian berlari keluar rumahnya dan melihat Junhee sedang berjalan dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal.

Myungsoo bangun dengan nafas berat dan pendek. Dia mengambil jam beker di atas nakas dan melihat waktu menunjukkan pukul lima pagi. Dia bernafas lega. Dan memilih untuk tidak tidur lagi, dia tidak ingin terlambat, padahal jam janjian dia masih sepuluh jam lagi.

Dia banyak melamun di atas ranjangnya memikirkan tempat yang akan dia kunjungi bersama Junhee. Dia kemudian teringat ucapan seorang teman dan sebuah senyum merekah di bibirnya. Dia bernafas lega karena sudah mendapatkan tempat untuk dia kunjungi nanti.

Myungsoo turun dari ranjangnya dan memilih untuk bermain game online di laptopnya setelah membersihkan diri di kamar mandi dan mengambil beberapa camilan, menunggu ibunya memanggil dia untuk sarapan.

Myungsoo menyetel alarm ponselnya di jam dua, dan bekernya setengah jam lebih lama untuk bersiap nanti.

Setelah alarm ponselnya berbunyi, Myungsoo menjejerkan beberapa kemeja dan kaos, memilah mana yang akan dia pakai. Dia kemudian mengambil kaos putih, sebuah kemeja pajang hijau tua motif kotak dan jaket tebal berwarna hitam yang senada dengan celana jeansnya. Dia mengembalikan pakaian yang tidak akan dia pakai dan mengambil kaosnya untuk dia pakai. Dia lantas pergi mandi.

“Satu race saja.” Monolog Myungsoo yang langsung bermain game di ponselnya begitu dia selesai mandi. Kemeja, jaket dan jeansnya dia simpan di tepi ranjang. Tidak menyadari kalau bumi mulai basah oleh salju.

.

.

Junhee menatap hujan salju dari jendela kamarnya. Dia mendesah pelan. Tidak menyukai hadirnya salju. Tidak untuk hari ini. Junhee melirik ke arah jam dinding, masih ada satu jam sebelum Myungsoo menjemputnya dan dia sudah bersiap. Akhirnya dia pergi keluar kamarnya dan menemani ibunya yang sedang menonton televisi.

“Kau mau pergi?” Ibu Junhee bertanya begitu putrinya duduk di sebelah dan meletakkan tas yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk menyimpan dompet, ponsel dan payung di dalamnya.

Junhee mengangguk sebagai jawaban. “Eomma tahu temannya Minhwan oppa yang dulu beberapa kali datang kemari? Myungsoo oppa, dia mengajakku pergi hari ini.” Ucapnya kemudian.

“Myungsoo? Iya eomma ingat. Tapi kenapa kamu diajak pergi olehnya? Bukannya kalian tidak begitu saling kenal ya? Dulu kalau dia datang kau sama sekali tidak peduli.”

“Kami bertemu saat dia berkunjung ke Jepang musim semi kemarin. Aku jadi sedikit lebih dekat dengannya sejak itu.” Terang Junhee.

“Kau menyukai dia? Atau dia yang menyukaimu?” Ibu Junhee bertanya lagi. Dia sangat jarang dikunjungi teman laki-laki Junhee yang statusnya hanya sebatas teman kecuali jika teman laki-laki itu datang bergerombol bercampur dengan teman perempuan yang lain.

Junhee mengangkat kedua bahunya tanpa memberi jawaban. Dia kemudian fokus dengan layar televisinya.

Ibu Junhee memandang curiga putrinya tapi tidak bertanya lebih jauh. Dia ikut menatap layar televisi di depannya. “Kau baru kuliah semester empat, masih lama untuk lulus. Apa tidak masalah kalau kau berpacaran dengan orang sini? Eomma malah lebih suka kau berpacaran dengan teman satu kampus misal, jadi ada yang bisa melindungimu di sana. Taeri bisa lapor kalau kau berbuat macam-macam juga.” Dia bicara tanpa menoleh pada Junhee. “Kalau kau sudah lulus dan pulang, baru cari laki-laki di sini. Dia bisa menjagamu dari dekat.” Lanjutnya.

Junhee melirik ibunya. “Aku tidak yakin Myungsoo oppa menyukaiku. Dua bulan yang lalu sih dia bilang kalau dia sudah putus dengan pacarnya. Tapi tidak ada bukti kalau dia menyukaiku. Dia mengajakku pergi mungkin karena dia sendiri tidak punya kesibukan dan ingin pergi tapi tidak punya teman.” Ucapnya.

Eomma ragu.” Ucap ibu Junhee pendek. “Ajak dia makan malam nanti kalau dia bilang suka padamu. Eomma akan masak lebih.” Dia berbalik pada Junhee dan bicara lagi. Raut wajahnya terlihat bersemangat meski beberapa saat yang lalu dia mengatakan ketidaksetujuannya putrinya berpacaran dengan Myungsoo.

“Eii~ tidak perlu. Dia tidak akan bilang suka padaku.” Tolak Junhee tapi suhu pipinya naik.

Appa akan menghabiskan jatah Myungsoo kalau dia tidak datang. Tenang saja.”

Junhee tidak bicara. Dia yakin ibunya akan bicara lebih banyak kalau Junhee membuka mulut lagi. Dia memilih untuk fokus ke depan layar televisi daripada menanggapi ibunya.

Setengah jam berlalu ibu Junhee bertanya kapan Myungsoo datang. Lima belas menit kemudian dia menanyakan hal yang sama. “Haruskah eomma berdandan untuk menyambut dia? Atau sedikit parfum?” Dia bertanya tak lama kemudian. Tak ada tanggapan dari Junhee dan ibu Junhee kembali menonton televisi.

Tteetttt….

Seseorang menekan bel rumah Junhee dan ibu Junhee bersemangat untuk menghampiri pintu, dia melihat di layar interphone dan mengenali wajah Myungsoo. Dia kemudian menekan satu tombol untuk membuka otomatis kunci pintu pagar rumahnya dan membuka pintu rumahnya.

“Selamat siang saya…”

“Kau Myungsoo kan?” Ibu Junhee memotong ucapan Myungsoo. “Ahjumma masih ingat teman-teman Minhwan yang sering datang kemari. Kau mau menjemput Junhee? Tunggu sebentar.” Dia menolehkan kepalanya ke dalam rumah. “Junhee-ya, Myungsoo sudah datang.” Ucapnya setengah berteriak.

“Aku tahu, tidak usah teriak seperti itu.” Kata Junhee yang sudah berdiri di belakang ibunya.

“Kalian mau kemana?” Ibu Junhee bertanya pada Myungsoo yang dibalas senyuman canggung oleh Myungsoo. “Ya sudah lah. Tidak penting juga sebenarnya. Tolong jaga Junhee baik-baik ya.” Ucapnya cepat sebelum dia mendapatkan sebuah jawaban. Dia kemudian masuk ke dalam rumah.

Oppa maaf, ibuku seperti itu.” Ucap Junhee.

“Dia memang seperti itu sejak dulu kan?” Kata Myungsoo. “Ayo pergi.” Ajaknya.

Eomma aku pergi dulu.” Teriak Junhee sebelum kemudian menutup pintu rumahnya.

.

.

Myungsoo melepaskan sarung tangan yang dia gunakan dan menyelipkannya di saku celananya. Dia beruntung salju tidak turun dengan lebat dan bahkan sudah berhenti turun di perjalanan dia menuju rumah Junhee. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan sebelum dia menekan bel rumah Junhee. Tak lama dia mendengar suara klik pelan tanda pintu pagar rumah Junhee terbuka. Myungsoo melewati pintu pagar dan menghampiri pintu rumah Junhee.

Myungsoo kaget begitu pintu rumah Junhee dibuka oleh ibunya. Dia pikir karena pintu pagar dibuka cepat, Junhee lah yang membukakan pintu. Dia kemudian mencoba mengenalkan diri, bisa saja ibu Junhee lupa padanya. Tapi ternyata ibu Junhee masih mengenalinya. Myungsoo salah tingkah begitu dia menyadari kalau ibu Junhee tahu dia akan mengajak Junhee pergi. Dia sudah menyangka sebenarnya, Junhee dan ibunya cukup akrab tapi tetap saja Myungsoo merasa tiba-tiba gugup. Untungnya dia tidak berhadapan lama dengan ibu Junhee dan mereka pergi menghampiri motor Myungsoo begitu Junhee menutup pintu.

Oppa kita akan pergi kemana?” Junhee bertanya begitu Myungsoo menyerahkan satu helm pada Junhee.

“Satu tempat, entah kau akan suka atau tidak. Kita datang saja dulu, kalau kau tidak menyukainya, kita bisa mencari alternatif tempat lain. Kau tidak keberatan kan kalau nanti aku memintamu merekomendasikan tempat lain? Jujur aku mengajakmu dan hanya bisa memikirkan satu tempat yang bisa kita kunjungi.” Jawab Myungsoo sambil berusaha untuk tidak melirik ke arah Junhee. Penampilan Junhee biasa saja, tapi Myungsoo merasa Junhee lebih cantik dari biasanya.

Junhee hanya mengangguk menerima penjelasan panjang Myungsoo.

“Bagus.” Kata Myungsoo dengan senyumnya.

Myungsoo menyalakan motornya, dia melajukan motornya ke jalan utama. Sekitar lima belas menit kemudian dia keluar dari jalan utama. Myungsoo menemukan sebuah café bawah tanah yang dia cari. Dia lantas memarkirkan motornya di tempat parkir seberang café.

Mengetahui mesin motor sudah mati, Junhee turun dari motor dan menyerahkan helm yang dia kenakan pada Myungsoo. Junhee merasa wajahnya beku Karena terpaan angin musim dingin sepanjang perjalanan tadi. Dia meletakkan tangannya yang dibungkus sarung tangan bulu ke pipinya, merasa sedikit hangat meski masih kaku.

Myungsoo menyadari sikap Junhee, dia memberikan senyumnya. “Aku minta maaf, kau pasti merasa kedinginan.” Ucapnya sambil meletakkan tangannya ke tangan Junhee yang masih ada di pipinya.

Myungsoo tidak menyadari pipi Junhee memanas dan jelas bukan karena hangat dari kedua pasang tangan di pipinya.

“Ayo masuk.” Ajak Myungsoo saat Junhee menurunkan tangannya, dia juga menurunkan tangannya.

Myungsoo mengajak Junhee masuk ke dalam café. Dia menoleh pada Junhee dan mendapati Junhee diam berdiri di depan jalan masuk. matanya mengarah ke poster yang ditempel di papan di pintu masuk. “Ada apa?” Myungsoo bertanya, mendekat pada Junhee yang tanpa sadar tertinggal dua langkah di belakang.

“Mereka perform siang ini?” Junhee bertanya, dia menoleh pada Myungsoo.

Myungsoo menangkap maksud pertanyaan Junhee, band bernama Toxic akan bermain di café hari itu. “Ya. Kau suka bandnya tidak? Kalau kau tidak suka, kita bisa pergi ke tempat lain.” Jawab Myungsoo.

“Aku menyukainya oppa.” Ucap Junhee dengan seulas senyum yang membuat Myungsoo senang. “Ayo masuk kalau begitu.” Ajaknya tanpa sadar menarik pergelangan Myungsoo.

Myungsoo kaget, tapi dia kemudian mengacuhkan tangan Junhee, dia bahkan merasa senang.

.

.

Junhee sebenarnya hanya sekedar suka band yang akan mereka tonton. Dia lebih menyukai band yang beraliran rock, lebih keras. Tapi dia tidak ingin mengecewakan Myungsoo yang sudah mengajaknya, berharap dia suka. Dan lagi, bukan berarti Junhee sama sekali tidak suka. Junhee masih menyukainya, beberapa lagu band itu ada di dalam daftar lagu ponselnya.

Junhee memberikan senyumnya pada Myungsoo. “Aku menyukainya oppa.” Ucapnya saat Myungsoo bertanya soal responnya.

Junhee senang karena bisa membuat Myungsoo terlihat lega. Mereka kemudian masuk ke dalam café dengan tangan Junhee menarik pergelangan tangan Myungsoo. Butuh beberapa detik untuk Junhee menyadari apa yang dia lakukan, tapi kemudian Junhee membiarkan tangannya menyentuh Myungsoo sedikit lebih lama.

Junhee melepaskan tangannya begitu dia melihat staff kasir café. “Maaf.” Ucap Junhee pada Myungsoo. Dia sangat tahu wajahnya sudah memerah.

“Kita duduk di samping sana.” Ajak Myungsoo sambil menunjuk sebuah meja yang letaknya tepat berada di seberang meja kasir.

Junhee mengangguk dan mengikuti Myungsoo berjalan menuju meja yang dimaksud Myungsoo.

Mereka memesan makanan dan minuman, mengobrol kegiatan masing-masing selama mereka tidak bertemu. Beberapa sudah mereka ceritakan lewat chat sebelumnya, temanya kemudian berubah ke seputar musik. Junhee mengatakan kalau dia sudah menciptakan beberapa lagu baru sejak libur musim dingin tapi hanya satu lagu yang sudah lengkap lirik juga nadanya. Dan Junhee bilang dia tidak mau Myungsoo mendengarnya karena lagu itu terlalu melo. Myungsoo memberikan protesnya karena kecewa dan akhirnya mereka tertawa bersama.

Tak lama, dua anggota Toxic naik ke atas panggung kecil di café itu. Junhee dan Myungsoo menghentikan obrolan mereka untuk menikmati live music hari itu.

Junhee pamit pada Myungsoo untuk pergi ke toilet setelah tiga lagu dinyanyikan oleh Toxic.

.

.

Myungsoo didatangi oleh seseorang yang dia kenal tak lama setelah Junhee pergi ke toilet.

“Kau kemana saja hyung? Aku tidak melihatmu dari tadi.” Myungsoo bertanya.

Laki-laki yang mendekati Myungsoo memberikan tatapan tidak suka. “Aku yang tadi memperkenalkan Toxic di depan. Ah, kau tadi sibuk memperhatikan pacarmu jadi tidak sadar.” Terang laki-laki itu. Di name tag yang dia pakai tercetak nama Nam Woohyun. Dia adalah kenalan Myungsoo yang memberi tahu Toxic tampil di café hari ini sekaligus saudara pemilik café.

“Dia bukan pacarku. Dia sepupu dari temanku.” Terang Myungsoo.

“Kalian tidak ada alasan untuk pergi berdua kalau dia hanya sekedar sepupu temanmu.” Ucap Woohyun tidak percaya. “Ngomong-ngomong, kau mau naik ke panggung? Toxic akan istirahat setelah lagu kelima. Aku rencananya akan menyanyi, tapi kalau kau mau tidak masalah sih. Aku malah senang.” Tawarnya kemudian.

“Ada dua gitar? Aku akan coba ajak temanku duet kalau dia mau.” Tanya Myungsoo.

Woohyun mengangkat jempolnya pada Myungsoo sebanyak jawaban. “Aku akan berikan sandwich dan softdrink sebagai hadiah.” Ucapnya.

“Hanya itu?”

Tak ada jawaban. Woohyun langsung pergi setelah dia bicara.

“Siapa?” Junhee bertanya pada Myungsoo saat dia duduk. Dia melihat Myungsoo bicara dengan Woohyun saat menuju mejanya.

“Teman. Kau mau menemaniku bernyanyi? Dia menyuruhku mengisi waktu selama Toxic istirahat, aku sudah mengiyakan. Tapi akan menyenangkan kalau ada teman.” Myungsoo bertanya. Junhee terlihat berpikir, cukup lama. “Kita ke panggung setelah lagu ini selesai.” Terang Myungsoo.

Junhee menoleh ke panggung, lagu sudah setengah jalan. Dia kemudian mengangguk. “Some? Lagu itu cukup populer. Aku hafal kunci nadanya.” Dia bertanya.

Call!” Ucap Myungsoo dengan senyum senangnya.

Tak lama setelah lagu berhenti, Woohyun naik ke atas panggung dan mengatakan ada penonton yang mau menyumbangkan satu lagu sambil menunggu Toxic bernyanyi lagi nanti. “Kita sambut mereka, Kim Myungsoo dan sepupu dari temannya.” Woohyun bicara sambil menunjuk meja Myungsoo dan Junhee.

Myungsoo membuang muka saat dia sadar Junhee menoleh padanya. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar ‘sepupu dari teman’ sebagai panggilan untuk Junhee. Salah dia tidak menyebutkan nama Junhee dengan benar tadi pada Woohyun. Myungsoo menatap Woohyun yang memberikan senyum jahilnya.

Tepukan tangan dari pengunjung membuat Myungsoo mengabaikan rasa malunya terhadap Junhee dan mengajak Junhee untuk naik ke panggung.

“Baik, ada kata-kata yang mau kalian katakan sebelumnya?” Woohyun bertanya pada Myungsoo begitu dia dan Junhee sudah duduk di atas kursi dengan gitar di pangkuan mereka. Junhee terlihat sibuk mengeset nada gitarnya.

“Err… sebenarnya kami tidak berencana untuk bernyanyi, dan lagi ini duet pertama kami setelah cukup lama. Dan tanpa latihan sama sekali, jadi… semoga tidak ada masalah. Terima kasih.

“Mau berkata sesuatu?” Woohyun bertanya sambil menyodorkan mikrofon yang dia pegang pada Junhee.

“Hanya ingin bilang… saya kecewa tidak diperkenalkan dengan benar tadi. Saya punya nama tentunya.” Ucap Junhee. Dari nada bicaranya jelas dia hanya bercanda karena diselingi tawa. “Choi Junhee imnida.”

Kemudian, keduanya siap dengan gitar mereka, saling pandang sejenak. Junhee memberikan isyarat pada Myungsoo untuk memulai dan Myungsoo mengangguk.

Myungsoo memetik gitarnya, masuk ke intro dan kemudian mulai bernyanyi.

Lagu ‘some’ milik Soyou dan JunggiGo dinyanyikan oleh Myungsoo dan Junhee dengan lancar. Mereka mendapatkan tepukan meriah sebagai apresiasi dari penonton.

Waktu berjalan cepat. Jam di ponsel Junhee menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit saat dia mengecek ponselnya ketika keluar dari café.

.

.

Angin musim dingin terasa begitu Junhee bertemu jalanan. Hujan salju yang turun selama mereka di dalam café membuat dingin itu lebih terasa. Junhee otomatis memeluk dirinya sendiri. “Oppa, kita tidak ada rencana kedua? Aku makan malam pukul delapan. Masih ada waktu kalau misal kita mau kemana dulu.” Tanya Junhee sambil mengikuti Myungsoo menuju tempat motor terparkir.

Myungsoo memperhatikan Junhee yang terlihat kedinginan. Dia kemudian mengambil sesuatu dari bagasi motornya, sebuah kantong plastik dan mengeluarkan isi dari kantong itu. Myungsoo melingkarkan syal tebal berwarna biru ke leher Junhee. “Hadiah. Karena sudah menemaniku.” Ucapnya sambil tersenyum.

Junhee kaget tapi dia menerima syal itu dengan senang, dia memang membutuhkannya karena dia lupa untuk membawa syal miliknya. Rasa hangat terasa lebih di lehernya dan syalnya cukup untuk menutupi wajahnya. “Terima kasih.” Ucap Junhee samar karena bibirnya tertutup syal.

“Aku akan mengantarmu pulang sekarang. Lebih baik kau menghangatkan diri di rumahmu. Kita pergi lagi kapan-kapan kalau cuaca tidak sedingin sekarang.

Junhee mengangguk sebagai ungkapan persetujuan, meski dia merasa sedikit kecewa.

Myungsoo melajukan motornya lebih cepat agar Junhee bisa cepat sampai ke rumahnya, dan lagi, hujan salju mulai turun lagi tak lama setelah dia berada di jalan utama.

Oppa mampir dulu. Aku akan buatkan cokelat panas, atau kopi di rumah.” Ajak Junhee begitu mereka sudah sampai di depan pagar rumah Junhee.

Myungsoo mengangguk, dia tidak bisa menolak karena dia memang membutuhkan minuman hangat. Sedikit bersyukur karena dia mengabaikan usulan dirinya sendiri untuk meminjam mobil ayahnya sebelum dia berangkat tadi.

Dia masuk mengikuti Junhee setelah memarkirkan motornya di garasi rumah Junhee.

Ibu Junhee mengintip Myungsoo dan Junhee dari arah dapur. Dia tidak mendekati keduanya yang duduk di ruangan depan, tapi jelas dia penasaran apa dia bisa mengajak Myungsoo makan malam atau tidak. Dia sudah memberikan syarat pada Junhee kalau Myungsoo bisa makan malam jika ada pernyataan suka dari Myungsoo, tapi sepertinya belum ada.

Myungsoo dibuat salah tingkah dengan sikap ibu Junhee dan dia sama sekali tidak mengerti kenapa. Ibu Junhee jelas bukan orang asing tapi sikapnya berubah karena yang Myungsoo temui adalah putrinya dan bukan keponakannya. Myungsoo berusaha untuk mengabaikan ibu Junhee dan meminum minumannya secepat mungkin lalu pergi.

.

.

Eomma, kau membuat Myungsoo oppa tidak nyaman.” Junhee bicara pada ibunya tak lama setelah Myungsoo pamit untuk pulang. Mereka berdua berada di dapur untuk mempersiapkan makan malam.

Eomma kecewa karena dia tidak bilang suka padamu. Padahal kau kan cantik, dan jelas menyukai dia. Kau susah sekali diajak pergi berdua oleh laki-laki. Kupikir hari ini kita akan makan malam berempat.” Ibu Junhee bicara mengabaikan ucapan putrinya.

“Aku sering jalan berdua dengan teman laki-laki di kampusku.” Tanggap Junhee.

“Ke perpustakaan? Ke toko buku? Menemani dia untuk mencarikan hadiah untuk pacarnya? Atau… duet untuk mendapat uang tambahan?” Ibu Junhee bertanya.

Junhee diam, tebakan ibunya benar. Meski dengan alasan yang kurang variatif. Dia memang sering pergi berdua dengan teman kampusnya karena alasan-alasan yang ditanyakan ibunya.

Mereka berdua menyiapkan makan malam sambil terus berbincang. Junhee sedikit bercerita kemana dia pergi dengan Myungsoo, tidak menjelaskan dengan detail. Ibunya bercerita mengenai drama yang dia tonton saat Junhee pergi. Dia juga bercerita mengenai Choi Minho sang idol yang bertambah tampan. Junhee masih heran kenapa ibu-ibu seperti ibunya masih menyukai idol seperti remaja.

Ayah Junhee pulang ke rumah pukul tujuh. Mereka kemudian makan malam setelah sang ayah membersihkan diri. Ibu Junhee bercerita pada suaminya soal Myungsoo dan membuat suasana meja makan lebih ramai dari biasanya.

“Dia tampan?” Tanya sang ayah pada Junhee.

“Lumayan. Meski tidak setampan Minho.” Ibu Junhee menjawab.

Junhee hanya diam. Dia tidak perlu menjawab apapun, ibunya akan terus bicara. Bahkan sampai mengarang cerita. Junhee hanya maklum, sifat ibunya memang seperti itu. Dan baginya, diam itu lebih baik.

Satu jam setelah makan malam selesai, Junhee sudah berada di dalam kamarnya. Dia menatap malam yang sudah semakin gelap lewat jendela kamarnya. Sebuah nada dari ponselnya membuat Junhee mengalihkan perhatiannya. Dia mengambil ponsel di atas kasur dan membaca sebuah pesan masuk.

‘Kalau kau belum tidur, aku ada di depan. Aku menunggumu selama lima belas menit, kalau kau tidak datang berarti kau sudah tidur.’

Junhee buru-buru mengambil jaket dan syal yang tadi diberikan Myungsoo, dia berjalan setengah berlari keluar dari kamarnya.

“Kau mau kemana?” Tanya sang ayah saat Junhee melewati ruang depan. Ayahnya sedang menonton berita pukul sembilan.

“Ke depan sebentar.” Ucap Junhee sambil terus berlalu.

Junhee membuka pintu rumahnya dan melihat sebuah motor terparkir di depan pagar rumah dengan seseorang tengah berdiri di samping motor itu.

“Myungsoo oppa.” Junhee memanggil.

.

.

Myungsoo pamit pulang tak lama setelah cangkir berisi cokelat panas yang diberikan Junhee sudah kosong. Dia tidak bisa berlama-lama di rumah Junhee dengan suasana yang canggung seperti itu.

Oppa hati-hati di jalan.” Ucap Junhee saat mengantarkan Myungsoo ke tempat motor Myungsoo terparkir.

Myungsoo mengangguk sebagai jawaban. Dia mengenakan helmnya kemudian pamit “Aku pergi. Terima kasih untuk hari ini.” Ucapnya sebelum kemudian pergi.

Rumahnya berjarak lima belas menit dari rumah Junhee. Dia melajukan motornya di jalan utama dan melihat beberapa toko sudah penuh dengan aksesoris khas Natal. Padahal Natal masih beberapa hari lagi.

Myungsoo sampai di rumahnya kurang dari lima belas menit. Dia langsung merebahkan dirinya di atas kasur begitu dia sampai. Myungsoo baru bangun lagi ketika ibunya memanggil dia untuk makan malam. Dia tidak terlalu lapar sebenarnya, tapi tetap mengisi perutnya.

Myungsoo kembali ke kamarnya begitu dia selesai dengan makan malam. Dia mandi dan setelahnya menatap gitar dan kamera yang tersimpan berdampingan. Myungsoo mengambil gitarnya, mulai menyanyi satu lagu yang sudah dia hafal. Lagu cinta dari Junhee untuknya. Nadanya dia ubah sedikit untuk menyesuaikan dengan suaranya. Dia lantas mengambil ponselnya setelah menyelesaikan lagu itu. Myungsoo mencari aplikasi perekam dan mulai menyanyi ulang lagu itu setelah menekan tanda merah di layar ponselnya.

Myungsoo kemudian langsung mengenakan jaketnya dan mengambil kunci motornya. Lalu dia pergi dari kamarnya. “Aku keluar sebentar.” Pamit Myungsoo pada ibunya ketika mereka bertemu di samping dapur.

Myungsoo melajukan motornya untuk pergi ke rumah Junhee lagi. Dia merasa dia tidak bisa menunggu. Dia harus mengucapkannya hari ini. Tidak ada jaminan Junhee mau atau bisa menemuinya lagi setelah hari ini.

Mesin motor Myungsoo matikan setelah dia sampai di depan rumah Junhee. Dia mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa kalimat pada aplikasi chatnya.

‘Kalau kau belum tidur, aku ada di depan. Aku menunggumu selama lima belas menit, kalau kau tidak datang berarti kau sudah tidur.’

Myungsoo turun dari motornya dan memarkirkan motor itu di seberang jalan. Dia berdiri sambil memunggungi rumah Junhee. Mencoba menyusun kalimat yang akan dia ucapkan jika Junhee mau menemuinya.

“Myungsoo oppa.”

Mata Myungsoo membulat, dia tidak berpikir Junhee akan keluar secepat itu. Myungsoo berbalik dan tersenyum meski mungkin terlihat samar karena tempat dia berada sekarang tidak terkena lampu jalan. Dia kemudian berjalan mendekati pintu pagar Junhee, melihat Junhee yang juga berjalan menuju pintu itu.

“Ada apa? Apa ada yang ketinggalan?” Junhee bertanya dengan tampang bingung. Dia sudah membuka pintu pagar dan dengan isyarat menyuruh Myungsoo masuk.

Myungsoo menggeleng. Kalimat yang belum selesai dia rangkai di otaknya tadi sekarang menghilang. Dia tidak tahu harus berkata apa. Namun kemudian Myungsoo mengambil headset ponselnya, dan menyerahkannya pada Junhee. “Aku ingin kau mendengarnya.” Ucapnya. Dia mencari folder dimana rekaman yang tadi dia buat tersimpan saat Junhee menerima headset masih dengan tampang bingung. “Dengarkan.” Lanjutnya. Dia menekan panel play di layar ponselnya saat Junhee sudah memasang headset itu di telinganya.

Lagu yang sangat Junhee kenal mengalun di telinganya. Suara penyanyinya jelas berbeda. Dia mendengar tiga baris lirik sebelum mencopot headset itu dari telinganya. “Apa ini?” Dia bertanya.

“Aku sudah tahu. Aku tahu musim panas lalu kau membuat lagu itu. Minhwan memberikan CD itu saat perempuan yang kau pikir adalah pacarku menikah. Aku tahu setelah membuatmu salah paham. Aku minta maaf karena tidak memberi tahumu. Tapi aku yakin kau memang tidak ingin aku tahu. Lagu itu, aku mendengarkannya hampir tiap hari. Aku merasa harus menyanyikan lagu itu untukmu karena sekarang perasaanku sama seperti yang kau rasa saat membuat lagu itu. Entah kau masih suka padaku atau tidak. Tapi yang jelas, saat ini, sejak mungkin gugur yang lalu, aku menyukaimu.” Myungsoo menghela nafas panjang setelah dia menyelesaikan kalimatnya tanpa memutus kontak mata dengan Junhee.

Dia menunggu. Menunggu reaksi yang akan diberikan oleh Junhee atas pernyataan cinta yang sama sekali tidak terdengar romantis juga manis.

Sebuah senyum terukir di bibir Junhee. Senyum itu berubah jadi tawa kecil.

Myungsoo gugup, bingung, tapi dia ikut tertawa bersama Junhee meski dengan canggung.

“Aku masih menyukaimu oppa.” Ucap Junhee kemudian.

“Ya?” Myungsoo masih belum sadar penuh mendengar jawaban Junhee.

“Aku masih menyukaimu.” Ulang Junhee.

“Ooh.” Myungsoo tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa tersenyum senang. Kali ini, cinta yang dia punya tidak bertepuk sebelah tangan. “Boleh aku memelukmu?” Dia bertanya selang beberapa saat.

Junhee terkekeh kemudian merentangkan kedua tangannya. “Tentu.”

Myungsoo tak membuang waktu, dia langsung merengkuh tubuh Junhee dalam pelukannya. “Terima kasih.” Ucapnya.

-END-

 

Advertisements

One response »

  1. Keren,, bisa bikin ff mereka lagi gk eonni.. Aku suka mereka hhh,, ff eonnu jg bagus..feelnya dapet, daebak ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s