[CS_1] カサブタ

Standard

Biasanya, banyak hal remeh yang aku ceritakan padanya. Biasanya, hanya karena sebuah panggilan telepon, gundah gulana itu menghilang. Biasanya, aku menyapa dia dan dia pun menyapa balik. Biasanya, tak ada akhir bagi kami jika sudah memulai setiap kata, entah diketikkan ataupun diucapkan. Read the rest of this entry

Advertisements

Secelumit Cerita Tentang Teman Baru

Standard

Seperti yang sudah kujanjikan, kisah pertama yang akan dibuat di benda sial ini adalah kisah perjalanan bagaimana aku mendapatkannya, dan bagaimana kisah-kisah yang mengiringinya.

Berawal dari rencana keberangkatan untuk mendapatkannya, aku dan rekanku seharusnya berada dalam kereta saat itu. Tapi faktanya, kereta berangkat bahkan sebelum aku berjumpa dengan wilayah kota. Aku masih dalam perjalanan saat kereta tersebut berbunyi nyaring menandai keberangkatannya.

Perjalanan pertama, ketidakberuntungan pertama. Read the rest of this entry

I’m a Boy, You’re a Girl

Standard

I’m a Boy, You’re a Girl

Main Cast : VIXX Ken / Lee Jaehwan – Jung Hyerin (OC)

Side Cast : Cha Hakyeon, Jung Taekwoon, Kim Wonshik, Lee Hongbin, Han Sanghyuk

Genre : Romance, Humor, Fluff

Disclaimer : Sayangnya saya tidak bisa melabeli Lee Jaehwan sebagai hak milik saya pribadi *sobs* But this storyline is mine! And also, I own my another alter-ego, Jung Hyerin.

Warning : Do not take this storyline without my permission. Say no to plagiator!

.

.

“Stop it, I ask of you…

Until when am I only gonna be a dongsaeng for you?

My speciality is transforming…

I can be an oppa, dongsaeng friend, or even a dad if you want…

Honestly, where can you find a guy like me?”

[Background Music VIXX Feat Okdal – I’m a Boy, You’re a Girl]

Happy reading~

@kendynuna fanfiction

.

.

.

Read the rest of this entry

Late Night Confession

Standard

late night confession

Author : Asuchi

Cast :

*) Im Chaeri[OC]

*) Kim Sunggyu [Infinite]

Genre : Romance

Disclaim : just own plot

Im Chaeri meletakkan boto-botol soju dari dalam kantong plastik ke atas meja. Dia menatap laki-laki yang memesan soju itu. “Beruntung aku masih bangun. Siapa yang mau menanggapi panggilanmu pukul setengah satu pagi hanya untuk menemanimu minum.” Kata Chaeri dengan nada dingin tapi sama sekali tidak ada maksud untuk bersikap seperti itu. Lelah yang membuatnya terdengar tidak bersahabat.

Kim Sunggyu, laki-laki yang duduk di depan Chaeri hanya memberikan senyuman sebagai tanggapan. Dia menepuk dudukan sofa di sampingnya. Memberikan isyarat pada Chaeri agar duduk di sampingnya. “Aku hanya Read the rest of this entry

[fiksi] 7 hari

Standard

Warning : galau, bahasa amburadul, rumit (?)

Tujuh hari…

 

Tentang aku dan kenangan tentangmu…

***

“Haruka-chan…” Aku masih ingat dengan jelas saat suara lirih itu menyapaku.

Saat itu bulan sedang bersembunyi di balik awan, di salah satu malam, di sebuah sudut perpustakaan.

“Kau… akan bahagia meski tanpaku, kan?” Lagi-lagi bisikan lirih nyaris tanpa suara.

Bisikan yang cukup keras untuk kudengar, namun tak mampu membuatku merespon sebuah jawaban.

Hening menyelinap saat mata kami bertemu.

Sorot mata sayu, aroma dan bias kepedihan itu begitu jelas ditujukan padaku. Namun, mengabaikan semua itu, aku selalu berpura-pura tak tahu menahu.

“Haruto-kun…” ucapku lirih. “…mengatakan sesuatu?” Aku melepas earphone yang mendendangkan lagu bisu di telingaku, menatapnya dengan kepalsuanku.

Pemilik sorot mata sayu itu menggeleng, tersenyum tipis kemudian.

“Nande mo nai.”

Dia berbohong.

“Sou ka?”

Begitu juga aku.

***

Tujuh hari yang lalu…

 

Apa kau tahu…

 

Aku juga ingin mengatakan hal yang sama kepadamu…

 

***

“Haruka-chan~.”

“Hm?”

Kedua iris gelap itu menerobos iris milikku.

“Apa ada seseorang yang kau sukai?”

Jika saja aku tak pernah tahu batasan mana yang bisa dan tak bisa kulewati, mungkin aku bisa akan menjawabnya dengan ringan, tanpa perlu alasan.

Kau.

Tapi aku tahu aku tak boleh melewati pagar yang tak terlihat itu.

“Berhenti bercanda, aku sedang mengerjakan PR.”

Aku kembali mengalihkan fokusku pada deretan rumus yang harus kupecahkan sementara ia mengerucutkan bibirnya dan mengusap surai kecokelatan miliknya. Terlihat kecewa.

“Haruka tidak asik,” protesnya lirih seraya memutar arah duduknya dan beringsut ke jendela.

***

Enam hari yang lalu…

 

Memori di kelas kala senja itu…

 

Jika aku bisa, aku ingin mengulanginya…

 

Meski jawaban yang akan kukatakan tetaplah sama…

 

***

“Ne ne Haruka-chan, kudengar kau sedang dekat dengan seseorang? Siapa?”

Pandanganku teralih dari cermin di depanku ke sosok mungil gadis di sampingku. Ia masih sempat merapikan rambut ikalnya, mengoleskan lipgloss di bibirnya dan tersenyum puas pada bayangannya di cermin sebelum balas menatapku.

“Apa aku mengenalnya?” Gadis itu kembali mendesakku.

Aku tak langsung menjawab. Kuputar kedua bola mataku, membiarkan engselnya terhenti sejenak saat menyapu salah satu sudut langit-langit.

“Dia…”

Aku kembali terdiam.

Memori-memori itu kembali berlarian di ingatanku. Wajah Haruto saat tersenyum, ekspresinya saat kecewa, suaranya yang selalu menelisik di gendang telingaku, gambaran tentangnya yang terselip di antara lobus-lobus otakku. Bagiku, dia orang yang istimewa.

“Dia…” gadis itu menirukan ucapanku, menunggu kata-kata berikutnya yang harusnya kuverbalkan.

“Dia…”

“Ya?”

Aku melirik gadis di sampingku sejenak. Bola matanya membulat menunggu jawaban.

“Rahasia.”

“Eh?”

“Bukan ‘eh’, ayo cepat keluar, sebentar lagi kelas dimulai.” kilahku sambil tersenyum dan berjalan menjauhi wastafel kamar mandi sekolah, menuju satu-satunya pintu keluar masuk.

“C.. Chotto~ kau sengaja bikin aku penasaran ya?” protesnya.

“Ahaha, ayo cepat jalan~.”

 

***

Lima hari lalu…

 

Rahasia itu akan selalu jadi rahasia kita berdua…

 

***

Seorang pemuda yang ditakdirkan untuk populer. Dicintai banyak orang. Menyenangkan. Dan terkadang kekanakan. Jika harus menggambarkan seorang Haruto, mungkin aku mengatakan semua itu.

Tapi mungkin aku juga akan berkata bahwa dia keras tapi rapuh. Berusaha terlihat tegar dalam nanar. Berusaha jujur dalam kebohongan. Dia sudah berusaha lebih keras dari siapapun.

Dan aku sudah berusaha keras untuk tak pernah ingat semua itu.

“Haruka-chan, ayo pergi!” Kicauan lembut Haruto memecah kepingan-kepingan puzzle yang baru saja terangkai di otakku. Dia bahkan tak menunggu jawaban dariku untuk segera berlari mendahuluiku.

Dan senyumannya saat ia berbalik sejenak kemudian sudah cukup untuk membuatku terdiam dalam bisu.

***

Empat hari yang lalu…

 

Ne, Haruto-kun, apa aku benar-benar sudah mengenalmu…

 

***

Karena Haruto bukan milik siapapun. Karena dia bukan burung yang terkurung dalam sangkar. Dia hanya entitas yang terjebak dalam jeratan bernama keadaan.

“Tiga hari lagi…”

Sepasang kristal bening Haruto menatap kosong pada ranting-ranting sakura yang meranggas di musim gugur. Matanya yang sayu terpejam seiring tarikan nafas pelan yang memasuki rongga dadanya.

“Dan semuanya akan berakhir…”

Nafasku tercekat.

Aku benci kalimat ini.

Aku benci karena aku tahu jelas apa artinya semua ini. Dan aku benci karena aku tak pernah mampu berkata-kata. Aku hanya bisa berpura-pura tak tahu apa-apa.

“Berhentilah bicara yang aneh-aneh. Ayo pulang.”

Lagi-lagi hanya kata-kata dingin berbalut es yang terucap dari mulutku.

***

Tiga hari yang lalu…

 

Haruto… dan aku…

 

***

“Aku akan menghilang saat Haruka-chan sudah bahagia.”

“Eh?”

Dulu, aku begitu naif untuk mencerna kata-kata itu. Aku masih terlalu bodoh untuk mengerti arti sebuah kata menghilang bagi bocah laki-laki di sampingku.

“Haruto… kun?”

Ia tak menjawab, hanya tersenyum tanpa juga menatapku. “Ah, bukan…” Bocah brunette itu tiba-tiba meralat ucapannya. “Mungkin tepatnya…” Terdiam sesaat. “Aku harus menghilang…”

Hanya ada desir angin, kilatan mata yang sendu dan tarikan nafas pelan Haruto.

Dengan lembut ia menatapku.

“Ne.. Haruka-chan.. kau tak akan mencegahku, kan?”

***

Dua hari yang lalu…

 

Sekeping memori dan seikat janji…

 

Setelah tahun-tahun damai berlalu…

 

Kenapa aku harus mengingat semua itu lagi?

 

***

“Jika saat ini aku mencegahmu… Apa kau akan menghentikan langkahmu?”

“Jika saat ini aku menarikmu, akankah porosmu beralih padaku?”

“Jika aku berkata tak ingin, apa kau akan mengabulkan permintaanku?”

Pemuda bernama Haruto itu hanya tersenyum setelah mendengar untaian kata-kata itu keluar dari mulutku.

“Daijobu… Kau pasti akan baik-baik saja, Haruka-chan.”

Itu bukan jawaban yang ingin kudengar, juga bukan sebuah kepastian. Jawaban itu bahkan tak sedikitpun memberiku harapan.

 

***

 

Satu hari yang lalu…

Saat hidupku terasa begitu kelabu…

 

***

Dia tak pernah nyata. Dia tak pernah ada. Dia tidaklah hidup dalam realita. Dia hanyalah sosok maya yang tercipta begitu saja. Dari impian seorang bocah kecil yang tak mampu hidup dalam dunia nyata. Dari sebuah keputusasaan karena tak memiliki siapa-siapa.

“Namaku Haruto.”

 

“Mulai sekarang aku akan ada di samping Haruka-chan.”

 

“Sampai Haruka-chan tak membutuhkanku lagi.”

 

“Haruka-chan, waratte yo!”

 

“Haruka-chan!”

Dia hanya ilusi yang kuciptakan sendiri.

Tapi bahkan ketika ilusi itu menghilang, salah satu bagian diriku ikut mengalami kekosongan.

***

 

Dan hari ini…

 

Ketika aku sudah tak bisa melihatnya lagi.

 

Ketika akhirnya aku harus bangun dari mimpi yang kurangkai sendiri.

 

Sayonara… Haruto-kun…

 

Selamat tinggal… Diriku yang lain…

 

***

선택 – Choice : Decision [End]

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Kim boram [OC]

*) Kim Jongwoon [Super Junior]

Genre : General, AU, Romance,  Married Life

Rate : PG – 15                  

Length : Drabble

Disclaimer : I own OC’s Boram, but borrow Jang Heejin for the cast. I own this story and all cast just in this fict.

a/n : akhirnya, setelah lewat entah berapa tahun, choice ketemu ending juga 🙂 thanks for all reader.

HAPPY READING ^^

Previous Series : Boram PoV | Jongwoon PoV | Jino PoV | Boram PoV [2] | Jongwoon’s Side | Jino’s Side | 

Choice - Decision

Read the rest of this entry